Pixel Code jatimnow.com

Keindahan Banesa, Batik Surabaya yang Gunakan Pewarna Berbahan Tanah

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Farizal Tito
Salah satu batik berbahan pewarna dari tanah. (Foto-foto: Irma Russanti for jatimnow.com)
Salah satu batik berbahan pewarna dari tanah. (Foto-foto: Irma Russanti for jatimnow.com)

Surabaya - Berbagai macam cara dilakukan untuk melestarikan warisan budaya batik. Mulai dari menggambar motif yang mempunyai nilai kekhasan tersendiri, hingga memodifikasi pewarna yang digunakan.

Seperti halnya tampak dalam batik karya dosen D4 Tata Busana Program Studi Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Irma Russanti ini. Dalam berkarya meneruskan warisan budaya luhur bangsa Indonesia ini, dia mempunyai cara tersendiri.

Ya, melalui Banesa (Batik Tanah Unesa) perempuan kelahiran Surabaya itu membuat batik dengan pewarna alam dari tanah. Meski terbilang unik dan tak seperti batik pada umumnya, batik karyanya tahun ini juga telah terdaftar dan mengantongi hak paten.

Menurut Irma, terciptanya Banesa atau pewarna batik dari tanah ini ditemukannya saat dirinya melakukan penelitian tahun 2013 lalu. Dia meneliti berbagai jenis tanah yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur sebagai pewarna batik.

Penelitian tersebut ternyata memunculkan warna alami pada pewarnaan batik, sehingga akhirnya terciptalah Banesa ini.

"Banesa ini batik dengan pewarna tanah, pewarna unik dan khas. Ini hasil riset saya, dan sudah mendapat paten dan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) 35 motif," kata Irma, Selasa (13/9/2022).

Dosen 47 tahun itu mengaku sementara ini dari hasil penelitian yang dilakukannya, tanah yang dapat digunakan menjadi warna batik yang memiliki karakteristik tertentu. Sehingga tidak semua tanah dapat digunakan menjadi pewarna batik.

"Tanah yang kami buat pewarna itu berasal dari Lamongan, Tanjung Bumi dan Bangkalan Madura. Tanah dari tiga wilayah tersebut memiliki karakteristik yang gampang menyerap kain dan tidak menutup pori-pori kain," jelasnya.

Jika dilihat ongkos pembuatan batik Banesa ini terhitung ekonomis, karena satu karung tanah dapat digunakan untuk mewarnai 20 lembar kain. Selain itu menggunakan metode tersebut, juga tidak mencemari lingkungan.

Baca juga:
Payung Rajut asal Kota Batu jadi Pemenang Fespin Batik Nusantara

"Hanya saja prosesnya satu lembar kain bisa memakan waktu 2 minggu, karena sekali diwarnai terus ditiriskan dan diangin-anginkan sesuai warna yang dikehendaki. Selain itu ramah lingkungan, limbah airnya pun bisa langsung disiramkan ke tanaman," bebernya.

Perempuan berhijab ini mengaku, produk batik ciptaannya motif gambarnya juga mengusung tema khas asal Kota Pahlawan seperti motif daun Semanggi, batik isen-isen motif daun krokot.

Terakhir, Sabtu (10/9/2022) lalu, dirinya juga meluncurkan motif baru, yakni motif naga dan wayang khas Banesa.

"Memang kalau motif itu kita menuruti permintaan pasar. Tapi kami juga ada yang gambar khas seperti daun Semanggi dan lainnya itu pun sudah ada hak patennya. Saat show kemarin launching motif naga dan wayang khas Banesa. Dan sudah terjual, hingga naga maupun wayang," katanya.

Selain itu, tambahnya, dia juga sudah memasarkan Banesa itu dengan menggandeng sejumlah pelaku UMKM mulai dari Surabaya, Sidoarjo hingga Probolinggo.

Baca juga:
UMKM Batik di Desa Bejijong Mojokerto Mulai Bergeliat Pascapandemi

"Selain memasarkan produk secara online, kami juga menggandeng UMKM dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Probolinggo dan Jogja," ungkapnya.

Untuk satu lembar kain batik Banesa sendiri, Irma membanderol dengan harga Rp500 ribu hingga Rp900 ribu.

"Jika ingin melihat koleksi kami bisa langsung ke Galeri Banesa di Program Vokasi kampus Unesa Ketintang. Harganya bervariasi tergantung mudah tidaknya proses pengerjaannya," katanya.