Pixel Codejatimnow.com

Umbar Basuki, Seniman Muda Inspiratif Asal Lamongan

Editor : Sofyan Cahyono  Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Umbar Basuki, pelopor Batik Daliwangun Lamongan.(Foto: Umbas Basuki for jatimnow.com)
Umbar Basuki, pelopor Batik Daliwangun Lamongan.(Foto: Umbas Basuki for jatimnow.com)

jatimnow.com - Bermula dari kecintaan terhadap seni dan tanah kelahirannya, seorang seniman muda asal Lamongan berhasil menginspirasi banyak kalangan.

Dia adalah Umbar Basuki. Pemuda inspiratif pelopor terciptanya Batik Daliwangun. Lewat tangan uletnya, ia sukses membawa nama Lamongan banyak disebut pada even dan lomba-lomba regional.

Umbar begitu ia disapa, lahir 29 tahun silam di sebuah Dusun bernama Medali, Desa Daliwangun, Kecamatan Sugio, Lamongan. Lewat karyanya, Umbar berhasil memperkenalkan dan menyampaikan asal-usul di balik cerita rakyat tanah kelahirannya dalam sebuah karya batik yang estetik.

"Batik ini dibuat untuk melestarikan serta menuliskan cerita tentang bagaimana Desa Daliwangun yang saat zaman penjajah Belanda warga dikejar dan bersembunyi di pohon Wangun, dan di atas pohon itu terdapat kawanan burung dali," katanya, Jumat (28/10/2022).

Ia mempelopori Batik Daliwangun sekitar awal 2019. Bermula dari keresahannya terhadap akulturasi budaya yang dialami pada pemuda masa kini yang cenderung latah teknologi.

"Ini cara saya mengabdi pada negara, melestarikan budaya khususnya batik. Lamongan itu punya banyak potensi yang bisa dikenalkan dan saya memilih motif Lamongan selatan dengan hasil buminya," katanya.

Baca juga:
4 Keluarga Anggota KPPS Meninggal di Lamongan Terima Santunan dari KPU

Untuk prestasinya, jangan ditanya. Ia telah berhasil mencatatkan namanya sebagai juara 2 even pemprov, serta 2 even Pemkab Lamongan melalui Batik Daliwangun.

Namun sayangnya, gebrakan yang dilakukan Umbar belum mendapat jalan untuk verifikasi Hak dan Kekayaan Intelektual (HAKI). Kini dirinya hanya memakai merk dagang Batik Tulis Soejono.

"HAKI kalau mandiri butuh biaya yang nggak sedikit, makanya sementara saya daftarkan Batik Tulis Soedjono. Itupun ada historisnya, mengambil nama bapak saya yang wafat pada 2018 silam sebelum saya mulai aktif membatik. Bentuk dedikasi kepada almarhum," ujarnya.

Baca juga:
Ketika Sobekan Kayu Faisal Amir jadi Karya Seni, Inspirasi dari Ketidakpastian

Sementara untuk melestarikan agar batik Daliwangun terus ada, masyarakat muda khususnya dan anak-anak tingkat SD dikenalkan dengan batik serta diberikan pelatihan cara membatik.

"Jadi saya kebetulan kuliahnya dulu di seni rupa STKW Surabaya. Kemudian saya berpikir ingin mengangkat cerita yang ada di desa. Kemudian saya bilang ke warga jika batik ini tak sekadar menjadi hobi tapi bisa menghasilkan cuan," pungkasnya.