Pixel Code jatimnow.com

Mengenal Jenis-jenis Hantu Versi Jawa Kuno

Editor : Rochman Arief
foto: tangkapan layar Bathari Durga.
foto: tangkapan layar Bathari Durga.

jatimnow.com - Mendengar sosok hantu, bisa membuat bulu kuduk berdiri. Bisa dimaklumi bila makhluk astral ini kerap digambarkan memiliki watak antagonis.

Jahat, suka menggoda, menakut-nakuti manusia, hingga bersifat membunuh. Tapi watak yang dimiliki itu kerap dimunculkan di dalam kisah atau film.

Kemudian muncul banyak pertanyaan tentang hantu yang berkaitan dengan bentuk fisik, sifat, lokasi bersemayam, aktivitas dan berbagai macam yang dikaitkan dengan manusia.

Pada dasarnya, hantu sudah dikenal masyarakat jawa kuno. Bahkan masyarakat sebelum era Kerajaan Majapahit sudah mengenalnya. Hantu-hantu itu ditulis dalam bentuk sastra, prasasti hingga dipahat dalam bentuk relief candi.

Kakwin Sena yang ditemukan dalam sebuah lontar abad 19 seolah membeber katalog hantu. Dengen atau Butho Dengen, merupakan hantu yang ada dalam Serat Nawaruci.

Di dalam Kakawin Sena juga menyebut banaspati dan kamangmang, sebagai hantu berkepal api. Untuk kamangmang, beberapa masyarakat modern juga menyebutnya kemamang. Yakni hantu wanita bertubuh api yang kerap muncul di ladang atau hutan.

Tetekan, usus, dan balung tandak atau hantu tubuh manusia masuk catatan Kakawin Sena. Sebetulnya relief Kidung Sudamala di candi Sukuh, juga terdapat terdapat hantu kepala tunggal.

Jengklek dan Gandarwo juga dilukiskan di candi yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah itu. Kedua hantu ini digambarkan memiliki rambut panjang. Mirip genderuwo atau gandaruwo dengan taring, seperti yang digambarkan masyarakat modern saat ini.

Baca juga:
Asal-usul Nama Kereta Api dalam Mitologi Jawa

Dalam lontar Sutasoma juga mencatat butha dan raksasa, yang dimasukkan klasifikasi hantu. Keduanya digambarkan sebagai pengganggu atau penggoda.

Sastra Jawa kuno lain yang tidak kalah seram adalah Serat Calon Arang. Cerita serat ini menggambarkan janda sakti yang memiliki teluh, dan bisa membunuh siapapun yang menolak kehadirannya.

Calon Arang juga sanggup menghidupkan orang mati untuk menjadi pengikutnya. Ia juga penebar teror dengan menyebar penyakit mematikan bagi yang menentang kehadirannya.

Nah, dari deretan hantu ini apakah Anda pernah berjumpa?

Baca juga:
Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Aplikasi 3D Benda Bersejarah Islam Majapahit

Sebetulnya ahli sejarah menyebut hantu merupakan produk budaya atau karya sastra. Hal ini untuk menggambarkan ketakutan masyarakat Jawa klasik saat itu.

Uniknya beberapa sejarawan asing mengoleksi hantu kuno di dalam penelitiannya. Calvin Ricklefs misalnya, mencatat makhluk astral ini telah ada sejak era Austronesia dan tidak dihapus dalam akar budaya. Akibatnya hantu dipercaya turun temurun hingga saat ini.

Kepercayaan tergantung pada Anda.