Pixel Code jatimnow.com

Cerita Penjaga Museum Kesehatan Surabaya, Pernah Dibanting Genderuwo

Salah satu sudut Museum Kesehatan Surabaya. (foto-foto: Rama Indra)
Salah satu sudut Museum Kesehatan Surabaya. (foto-foto: Rama Indra)

jatimnow.com - Bangunan tua selalu lekat dengan hunian makhluk-makhluk astral. Apalagi bangunan tersebut memiliki masa lalu kelam sebagai tempat jatuhnya korban jiwa.

Berbicara mengenai bangunan tua dan lelembut, penelusuran jatimnow.com tertuju pada bangunan eks Museum Kesehatan dr. Adhyatma. bangunan ini terletak di Jalan Indrapura, Kota Surabaya.

Konon Museum Kesehatan ini merupakan bekas Rumah Sakit LP4K pada tahun 1951, kemudian menjadi Rumah Sakit Abortus (aborsi) tahun 1965, dan terakhir menjadi museum dengan koleksi benda-benda mistis nonmedis tahun 2005.

Penjaga Museum Kesehatan dr. Adhyatma Surabaya, Husnan mengatakan bahwa mulai dulu bangunan ini terkenal angker, lantaran pernah menjadi tempat aborsi.

"Sejak tahun 1965 sampai 2000, tempat ini menjadi penampungan aborsi bagi perempuan hamil dengan kondisi kelainan dan janin-janinnya banyak dikubur di sini," kata Husnan kepada jatimnow.com, Kamis (1/12/22).

Selain banyak dikubur janin-janin di seputar area museum, lanjut Husnan, dulunya banyak wanita meninggal selama proses aborsi.

"Ada dua pertaruhan bagi yang mengalami kelainan kehamilan, dan akan melakukan aborsi. Semua ditulis dalam nota kesepakatan, yaitu mana yang mau diselamatkan untuk hidup, sang ibu atau si jabang bayi," ungkap Husnan.

Dari situlah Husnan menyadari asal muasalnya. Di mana sosok yang selama ini kerap mengganggunya saat berjaga di museum adalah sosok-sosok astral.

"Janin berwujud menjadi bayi nakal yang meneror saya setiap malam, dengan berlarian ke sana ke mari, bahkan tak segan menimpuk kepala saya dengan batu. Ada lagi perempuan yang meninggal menghantui saya dengan berwujud wewe gombel," jelasnya.

Awalnya Husnan sangat ketakutan. Di awal karirnya menjadi petugas kebersihan pada tahun 1999 lalu, hampir setiap hari ia berlarian karena menangkap penampakan lelembut berbagai macam bentuk itu.

Lambat laun, Husnan mulai memberanikan diri untuk menyesuaikan dengan segala kemungkinan ancaman yang akan terjadi.

Baca juga:
Kader PDI Perjuangan Wonokromo Kerja Bakti Bareng Warga Kampung

Sampai hanya tertinggal satu wujud lelembut saja yang sekarang ini ditakuti Husnan. Genderuwo, ia menyebutnya, dan pernah membantingnya dengan keras ke tembok.

"Saya tidak kuat sama genderuwo penunggu museum, berpawakan besar, warnanya hitam, lebat dan berbulu, kemudian matanya merah menyala," rincinya.

Waktu itu, lanjut Husnan, saat hendak pulang shift malam, ia terjebak hujan lebat dan terpaksa menunggu hujan reda di museum.

Ia mengingat waktu itu ia dihampiri sosok hitam besar dan diketahui itu genderuwo, sekitar pukul 24.00 WIB. Belum sempat melarikan diri, ia telah dibanting ke tembok.

"Saya sudah merasa tidak enak, mencium bau-bau khas ketela bakar. Kok di pojokkan muncul kepala besar hitam seperti singa bermata merah, saya diangkat dan lantas dibanting ke tembok glodakkkk..!!," kenang Husnan.

Baca juga:
Gereja Katolik Redemptor Mundi Surabaya Rutin Gelar Dialog Agama dan Karawitan

Menurutnya, tidak ada yang ditakui selain genderuwo. Bahkan setan lain saat ini tidak ada yang ditakutinya. Meskipun banyak setan-setan penunggu museum kesehatan yang lain.

Setan atau lelembut sebagai penunggu museum ini yang pernah mengganggu Husnan, di antaranya noni belanda, pocong, dan sebangsa tuyul dengan tubuh usia tua berkuping lancip.

Lebih dalam, bocoran dari Husnan, di dalam gedung tua itu juga terdapat satu ruangan khusus yang selama ini dirahasiakan dan dilarang dimasukki sembarang orang, yaitu ruangan dunia lain.

"Ada salah satu ruangan yang terdapat delapan bilik kamar kecil, bekas dari pembuangan janin. Ruang itu disebut ruangan dunia lain," pungkasnya.

Sementara, bangunan tua bekas rumah sakit dan museum itu, saat ini sebagian lahannya sudah terbongkar habis dan rencananya akan dibangun menjadi rumah sakit internasional.