Pixel Code jatimnow.com

Wabup Jombang Dorong UMKM Naik Kelas, Ini Tujuannya

Editor : Redaksi Reporter : Advertorial
Wakil Bupati Jombang, Sumrambah saat mengikuti kegiatan temu usaha dan penyerahan sertifikat halal di Unipdu Rejoso, Jombang.(Humas Pemkab Jombang for jatimnow.com)
Wakil Bupati Jombang, Sumrambah saat mengikuti kegiatan temu usaha dan penyerahan sertifikat halal di Unipdu Rejoso, Jombang.(Humas Pemkab Jombang for jatimnow.com)

jatimnow.com - Wakil Bupati Jombang, Sumrambah menyampaikan beberapa point penting sertifikasi halal untuk pelaku UMKM. Pesan ini disampaikan dalam temu usaha dengan pelaku UMKM di Universitas Pondok Pesantren Darul Ulum (Unipdu).

Sumrambah, menjekaskan temu usaha yang ini sebagai koordinasi dan sinkronisasi dengan para pemangku kepentingan dalam pemberdayaan usaha mikro yang dilaksanakan di kampus. Harapannya ada;ah dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha juga civitas akademika.

Lebih lanjut ia mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang hadir. Hal ini dikarenakan semua pihak yang hadir akan berkolaborasi dengan seluruh civitas akademika Unipdu untuk menjadi pendukung utama kemajuan perekonomian di Jombang.

"Dinas harusnya dapat berbuat lebih banyak untuk menjadikan UMKM naik kelas ekonomi dan tancap gas. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan impor dan mengajak untuk menggunakan produk lokal, produk dalam negeri," paparnya.

Ia mengaku saat ini Indonesia bergantung pada gandum impor. Karena banyaknya kebutuhan tepung yang belum bisa terpenuhi di dalam negeri.

"Kebutuhan impor terigu itu sudah 12 juta ton per tahun. Kita ini jadi orang barat loh, semuanya tergantung pada terigu dan yang membuat ketergantungan itu pemerintah. Karena setiap pertemuan apapun makanan yang disajikan pasti mengandung gandum atau terigu," katanya.

Baca juga:
Undang Elemen Masyarakat, Ini Yang Disampaikan Bupati Jombang

Pemerintah Kabupaten Jombang berharap ke depannya, semua masyarakat mampu menghindari ketergantungan pada produk impor. Termasuk tergantung pada gandum. Karena ada sorgum yang kandungannya hampir sama dengan gandum.

"Harapannya, kita harus sudah mulai meninggalkan sisi ketergantungan terhadap impor terigu dan mulai beralih ke sorgum, mengonsumsi polo pendem, produk lokal, produk petani kita, dan produk UMKM kita," bebernya.

Ia menceritakan saat ini, dunia sudah teracuni Indonesia dengan semakin kuatnya pariwisata dalam negeri. Selain itu, masyarakat di luar negeri juga mengakui cita rasa masakan di Indonesia.

Baca juga:
Rancangan Awal RKPD Jombang 2024 Dibahas, Ini Target Bupati Jombang

"Kenapa? beberapa teman saya asal Australia mulai minta dikirimi bumbu masak, permintaan ini termasuk negara lain. Mereka minta dikirim tidak lagi dalam bentuk cabai mentah, tapi sudah dalam bentuk sambal, dalam bentuk bumbu soto, bumbu rawon, atau bumbu pecel. Ini peluang," ujarnya.

Ia mengaku jika semuanya ini dimulai dari salah satu warga Jombang yang gemar mengkampanyekan masakan Indonesia khususnya masakan Jombang.

"Ini sudah dilakukan oleh anak Wonosalam yang umurnya berapa 38 tahun. Salah satu eksportir bumbu yang sudah merambah ke Eropa. Penghasilannya Rp80 juta sampai Rp100 juta per hari," katanya.

Ia menjelaskan melalui promosi produk lokal ke luar bisa menghasilkan pasar sendiri bagi para pelaku UMKM. "Melalui promosi, dengan membawa contoh barang, diharapkan akan menarik pasar dan akan terjadi transaksi," pungkasnya. (ADV)