Pixel Code jatimnow.com

Pengasuh Ponpes di Jombang Jadi Korban Penipuan Promo Bank, Uang Rp30 Juta Raib

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Zain Ahmad
Kolase bukti chat Gus JA dengan pelaku yang mengatasnamakan dirinya dari BRI (Foto: Gus JA for jatimnow.com)
Kolase bukti chat Gus JA dengan pelaku yang mengatasnamakan dirinya dari BRI (Foto: Gus JA for jatimnow.com)

jatimnow.com - Seorang pengasuh pondok pesantren (ponpes) di daerah Denanyar, Jombang menjadi korban penipuan oleh pihak yang mengaku dari BRI. Atas penipuan itu, korban kehilangan uang hingga Rp30 juta.

Pengasuh ponpes itu adalah Gus JA. Kepada jatimnow.com, ia menceritakan bahwa penipuan yang dialaminya itu terjadi sekitar akhir Agustus 2022.

"Seingat saya itu kalau nggak salah akhir Agustus tahun ini. Ya antara Agustus kalau tidak awal Juli," sebutnya, Senin (5/12/2022).

Gus JA menjelaskan, saat itu ia habis pulang ngaji kemudian membuka WhatsApp (WA), karena banyak chat yang masuk. Saat dibuka, ada nomor baru. Karena penasaran, kemudian chat dari nomor baru itu dibuka.

Saat dilihat, rupanya nomor baru itu mengaku dari BRI, yang menawarkan promo perubahan biaya admin transfer.

"Saya lihat waktu itu. Dia kirim kayak pemberitahuan seperti itu. Kemudian saya baca dan isinya menawarkan perubahan biaya admin transfer dari Rp6,5 ribu menjadi Rp150 ribu per bulan. Saya nggak konsen waktu itu. Dan orangnya bilang, kalau nggak respon akan di-auto debet dari Rp150 ribu itu dikali 6 bulan. Kalau ditotal kan lumayan banyak. Di situlah akhirnya saya respon," terangnya.

"Kemudian saya bilang, kalau gitu saya ambil satu saja. Karena mbanking saya kan ada tiga rekening. Dari situ kemudian saya disuruh ngisi link. Kemudian saya buka, kok tampilannya seperti mbanking di BRI. Setelah itu disuruh memasukkan user id dan password. Nah, setelah selesai, di situ disuruh menunjukkan kode SMS OTP," tambah Gus JA.

Tanpa sadar, ia kemudian mengikuti semua perintah dari pelaku. Setelah dapat kode OTP di SMS, lantas oleh Gus JA di-copy paste, namun tidak bisa.

"Di situ kemudian saya WA orang yang ngaku dari pihak BRI ini. Terus katanya suruh masukkan kode OTP lagi. Pas saya coba lagi, tetep nggak bisa. Dan dapat pemberitahuan malah uang saya ini yang di mbanking keluar Rp2 juta. Padahal saya nggak transaksi sama sekali," papar dia.

Karena mulai curiga, Gus JA kemudian mencoba membuka mbankingnya, dan ternyata sudah tidak bisa dibuka.

Baca juga:
Menantu Dipenjara, Mertua Kabur Entah Kemana

Setelah uangnya tersedot Rp2 juta, tak lama uangnya hilang lagi secara berturut-turut. Karena merasa tertipu, ia mencoba menelepon pelaku. Setelah diangkat dan baru bicara sedikit, telepon tersebut langsung ditutup.

"Kemudian saya berangkat ke ATM nyoba cek. Dan ternyata sudah nol semua saldo saya. Itu ada sekitar Rp30 juta. Awalnya saldo saya Rp50 juta. Tapi sebelumnya sudah saya pakai. Misal nggak saya pakai, diambil semua pasti," sesalnya.

Selepas dari ATM, Gus JA kemudian mencoba menghubungi pihak BRI, lantas disuruh memblokir semua rekening. Begitupun mbanking juga disuruh untuk mengganti password.

"Dari situ kemudian saya lapor ke polres. Diterima. Tapi sama polres juga disuruh lapor ke polda. Karena di polda yang ada sibernya," jelasnya.

Gus JA mengungkapkan, bahwa pelaku yang menipu dirinya terbilang pintar. Sebab, uang puluhan juta yang ada di mbanking itu raib hanya dalam waktu 15 menit saja.

Baca juga:
Aset Penjual Pentol Surabaya jadi Barang Bukti Polsek Kenjeran, Kenapa Sih?

"Cepat banget. Langsung diambil semua. Tapi awalnya Rp2 juta. Kemudian Rp5 juta. Bertahap. Dan pas saya cek di ATM, setelah mbanking saya nggak bisa dibuka, uang saya sudah nol," ulasnya.

"Ya saya waktu itu, hanya bisa ikhlas. Nggak bisa ngapa-ngapain. Dalam hati ya bilang, mungkin itu bukan rezeki saya. Karena juga pas saya lapor ke pihak BRI, dari bank ya nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa ganti rugi," tandas Gus JA.

Dia berharap kasus yang menimpanya bisa segera diungkap, karena sangat meresahkan.

"Saya berharap, sindikat-sindikat seperti ini bisa segera terungkap. Karena kan saya kasihan. Apalagi orang-orang, ya mohon maaf, kyak gaptek. Kan bahaya," pungkasnya.