Pixel Code jatimnow.com

Suarakan Kesetaraan Difabel dan Pemanasan Global Melalui Karya Busana

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Farizal Tito
Busana karya Alumni FIK Ubaya (Foto-foto: Elen for jatimnow.com)
Busana karya Alumni FIK Ubaya (Foto-foto: Elen for jatimnow.com)

jatimnow.com - Alumni Fakultas Industri Kreatif Ubaya (FIK Ubaya) menciptakan karya busana yang menceritakan relasi manusia dengan sesama dan alam. Karya ini ditampilkan pada acara 7th Annual Graduation Show FIK Ubaya 2022.

Seperti karya Alifia Maudy Fararidwana. Dia membuat karya busana dengan nama "Different Not Less" tentang anti bullying terhadap komunitas disabilitas.

Maudy mengatakan, karya busana ciptaannya itu mengusung campaign concept, di mana suara komunitas disabilitas dapat didengar seluruh masyarakat.

Dia ingin menunjukkan bahwa seorang disabilitas, walaupun berbeda atau memiliki keunikan, tetap tidak mengurangi arti mereka seperti manusia lainnya.

"Konsep ini dituangkan ke dalam style yang saya gunakan, yaitu style rebellious sporty yang menggambarkan keaktifan dan sifat pemberani. Warna yang dipilih juga mayoritas hitam, merta, serta putih. Untuk hitam dan merah memiliki arti berani, menantang dan kontroversial. Sedangkan putih menggambarkan kejujuran juga ketulusan," jelas Maudy, Minggu (11/12/2022).

Maudy menambahkan, tulisan pada busana dibuat kontroversial karena ingin menyuarakan campaign anti-bullying terhadap komunitas disabilitas.

Sedangkan Tin Nur Zahrotul Ula menciptakan karya busana bernama "The Frorelt" tentang pencairan gletser. Dia mengaku busana karya itu terinspirasi dari pencairan gletser akibat pemanasan global sehingga menyebabkan volume air pada bumi meningkat.

Busana ini menjadi campaign untuk mengurangi polusi maupun limbah agar pemanasan global semakin berkurang dan menjadikan bumi lebih baik untuk generasi selanjutnya.

Baca juga:
Pesona Adat Nusantara Digelar di Jombang, Mundjidah Jadi Ingat Zaman Muda

"Untuk itu, koleksi ini sebagian besar menerapkan konsep zerowaste fashion dengan menciptakan pakaian tanpa memotong kain, sehingga kain tersebut dapat digunakan di kemudian hari. Saya juga memanfaatkan bekas potongan kain dari garmen lain yang dijadikan sebagai detail patchwork pada koleksi," ujar Tin Nur.

Pencairan gletser digambarkan melalui wrinkle pleats dan teknik warna tie dye dan ombre pada busana serta sebagian besar garmen yang memiliki desain oversize.

Penanggung jawab kegiatan Graduation Show FIK Ubaya 2022, Hany Mustikasari mengungkapkan, dua busana ini merupakan karya tugas akhir yang mereka kerjakan selama satu semester.

Konsepnya menyesuaikan tema besar graduation show FIK Ubaya 2022 yaitu "Persona". Tema ini memiliki arti menjadi manusia yang lebih bijak dengan memanusiakan diri sendiri, sesama, dan alam sekitar.

Baca juga:
Putri Anak Indonesia Budaya Berbagi Ilmu Modeling di Kota Mojokerto

"Pada masa pemulihan pasca pandemi, manusia semakin peka dengan kondisi lingkungan di sekelilingnya. Cara mengungkapkannya pun berbeda-beda karena setiap karakter memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Dari sinilah tercetus 'Persona' sebagai tema besar," ungkap Hany.

Hany menambahkan, pada kegiatan yang digelanya ini juga menampilkan 154 karya busana yang dibuat oleh 78 mahasiswa FIK Ubaya dan dibawakan oleh 53 model.

Rancangan terbagi menjadi tiga tema kecil yang telah diklasifikasikan menurut dua kelompok busana yang berbeda, yaitu Local Content Design Project dan Evening Gown Design Project, serta satu kelompok khusus untuk karya mahasiswa tugas akhir.

"Melalui acara graduation show ini, kami berharap bisa membawa angin segar bagi industri fashion setelah sekian tahun dilaksanakan secara online. Selain itu, semoga bisa menginspirasi dan mendorong banyak orang untuk melahirkan karya-karya baru di bidang fashion," pungkasnya.