Pixel Code jatimnow.com

Masjid Tiban Sendang Duwur, Dipindah dari Jepara ke Lamongan hanya Semalam!

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Masjid Sunan Sendangduwur, Lamongan. (Foto: Adyad Ammy Iffansah for jatimnow.com)
Masjid Sunan Sendangduwur, Lamongan. (Foto: Adyad Ammy Iffansah for jatimnow.com)

jatimnow.com - Masjid di area makam Sunan Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan menyimpan sekelumit cerita. Keberadaannya dinilai tak masuk akal, sebab letak masjid itu berada di atas puncak perbukitan.

Konon masjid tersebut juga dipindah dari Jepara, Jawa Tengah, menuju Lamongan Jawa Timur oleh Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rohmad seorang diri. Warga meyakini masjid itu adalah bagian dari keajaiban dan ilmu kewalian yang dimiliki Sunan Sendang Duwur kala itu.

Cerita diawali dari perintah Sunan Drajat untuk mendirikan masjid, lantaran Raden Noer telah memiliki jamaah yang cukup banyak.

"Warga sini (Sendang Duwur) menganggap masjid ini sebagai masjid tiban karena letaknya yang berada di puncak bukit. Ceritanya, bermula saat Raden Noer Rohmad diperintah Sunan Drajat untuk mendirikan masjid," ungkap keturunan ke-13 Raden Noer Rohmad, Irfan Masyuri, Senin (2/1/2023).

Singkat cerita, Raden Noer Rohmad diberi petunjuk untuk membeli salah satu masjid di Mantingan, Jepara, Jawa Tengah. Namun, sesampainya di sana Raden Noer Rohmad menghadap tokoh termasyur di sana yakni, Ratu Kalinyamat atau terkenal disebut Mbok Rondo Mantingan.

"Pertemuan keduanya terjadi, Raden Noer menjelaskan maksud tujuannya tapi oleh Mbok Rondo Mantingan tidak menghendaki permintaan Raden Noer," terang Irfan.

Baca juga:
Percaya Pohon Randu Dihuni Hantu? Itu Akal-akalan Belanda, Ini Faktanya

Meski begitu, Mbok Rondo Mantingan memberikan persyaratan kepada Raden Noer Rohmad sesuai wasiat sang suami.

"Ya maaf masjid di sini tidak akan saya jual. Tapi suamiku pernah berwasiat, ada orang yang mampu membawa masjid ini sendiri tanpa bantuan siapa pun maka masjid ini akan saya berikan," jelas Irfan menirukan percakapan Ratu Kalinyamat dengan Raden Noer Rohmad.

Sempat dihinggapi rasa bingung dengan persyaratan yang diberikan Mbok Rondo Kalinyamat, Raden Noer akhirnya bermunajat kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk.

Baca juga:
Mitos dan Cerita Mistis di Gunung Pegat Ponorogo

"Akhirnya diberi petunjuk untuk membaca bismillah 3 kali sambil menginjak (nggedrok) tanah, dan atas izin Allah SWT masjid itu terangkat dan dibawalah ke Sendang Suwur atau Dusun Amintunon," terangnya.

Kala itu, warga dibuat heran dalam waktu satu malam masjid sudah berada di atas puncak bukit Dusun Amintunon. "Dulu warga menamainya dengan masjid tiban," paparnya.

Masjid ini termasuk masjid tertua di Jawa Timur. Tidak banyak perubahan atap atau kubah masjid dipertahankan hanya saja bagian dinding dibangun ulang karena material kayu mulai lapuk dimakan usia.