Pixel Code jatimnow.com

Korban Penipuan Rekrutmen Tenaga Kerja ke Australia, Sebulan Terkatung-katung

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Elok Aprianto
Rumah Ismuasih yang dijadikan kantor dan tempat penampungan calon tenaga kerja ke Australia. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Rumah Ismuasih yang dijadikan kantor dan tempat penampungan calon tenaga kerja ke Australia. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ada 28 orang dari 32 orang calon tenaga kerja yang dijanjikan berangkat ke Australia oleh Ismuasih. 28 orang tersebut adalah calon tenaga kerja yang sudah melakukan pembayaran. Sedangkan 4 yang lain gagal membayar.

Selama menunggu masa pemberangkatan, puluhan orang itu sempat tinggal selama satu bulan di rumah Ismuasih yang ada di Dusun Juning, Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno Jombang.

"Korban yang terdaftar itu awalnya itu ada 32 orang, terus yang 4 itu terkendala biaya. Akhirnya yang sampai terus berproses sampai sekarang itu ada sekitar 28 orang," ungkap Kacung (47), salah satu korban, Raby (4/1/2023).

Lebih lanjut warga Desa Kedung Mentawar, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan ini menjelaskan, selama satu bulan mereka menempati kediaman Ismuasih.

"Kita menunggu pemberangkatan itu satu bulan di rumah Bu Ismuasih," bebernya.

Ia menjelaskan memang di rumah Ismuasih tidak ada kantor. Tapi semua kegiatan penyaluran tenaga kerja dilakukan di rumah yang ada di Dusun Juning, Desa Mojoduwur.

"Di situ memang gak ada kantor atau yang terstruktur, karena itu rumah biasa. Dan Ismuasih juga ada di rumah situ," paparnya.

Ia mengaku saat itu, Ismuasih membuat jadwal pemberangkatan ke Australia sekitar tanggal 20 Juni 2022. Sehingga para calon tenaga kerja yang dari luar Jombang, mulai berdatangan.

Baca juga:
Menantu Dipenjara, Mertua Kabur Entah Kemana

"Mulai tanggal 17, tanggal 18 itu sudah mulai berdatangan yang dari jauh, mulai kumpul dan nunggu sampai satu bulan lebih di situ," bebernya.

"Yang datang dari jauh itu mulai dari, Sumatera, Bandung dan Pati, terus nunggu di situ," sambungnya.

Selama satu bulan lebih, 28 korban tidak melakukan kegiatan apapun. Mereka hanya makan tidur dan menunggu pemberangkatan ke Australia.

"Gak ada aktivitas apa-apa cuman nunggu pemberangkatan aja. Karena ada penundaan tiga kali. Yang pertama tanggal 20 Juni, diundur sampai tanggal 28 Juni 2022, terus yang terakhir itu tanggal 18 Juli 2022," katanya.

Baca juga:
Aset Penjual Pentol Surabaya jadi Barang Bukti Polsek Kenjeran, Kenapa Sih?

Usai mendapati gagal berangkat kerja ke luar negeri ia selanjutnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang ada di Lamongan.

"Setelah gagal berangkat saya pulang pergi dari situ. Dan terakhir saya gak ke situ (rumah Ismuasih) tanggal 21 bulan 11 kemarin. Kalau yang lainnya sudah berpencar sekarang dan rata-rata sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena kalau disuruh nunggu terus kan gak bisa," jelasnya.

Ia mengaku hingga saat ini, Ismuasih sudah tidak ada di rumahnya yang ada di Desa Mojoduwur.

"Informasi yang didapat salah satu korban itu, saat ini Ismuasih sedang di Jakarta," pungkasnya.