Pixel Codejatimnow.com

Penanganan Stunting Jatim di Bawah Standar WHO, Angka 19,2 Persen, Cakkepp!

Editor : Rochman Arief  Reporter : Ni'am Kurniawan
Gubernur Khofifah saat memberikan pengarahan dalam Program Edukasi 1.000 Bidan dan Intervensi Stunting bersama BKKBN, di Dyandra Convention Center Surabaya (foto: Humas Pemprov Jatim for jatimnow.com)
Gubernur Khofifah saat memberikan pengarahan dalam Program Edukasi 1.000 Bidan dan Intervensi Stunting bersama BKKBN, di Dyandra Convention Center Surabaya (foto: Humas Pemprov Jatim for jatimnow.com)

jatimnow.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya peran bidan dalam upaya pencegahan stunting di 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Menurutnya, bidan merupakan sosok yang berada di garda terdepan yang dapat memberikan pendampingan, pengetahuan dan dukungan kepada para ibu sejak kehamilan hingga bayi berusia lima tahun.

Hal itu disampaikan Khofifah saat memberikan pengarahan dalam Program Edukasi 1.000 Bidan dan Intervensi Stunting bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (11/2/2023).

"Ada tugas besar yang harus kita tuntaskan. Ini tugas di antara kita semua. Harus terbangun sinergi yang sangat bagus antar berbagai pihak. Bidan berada di posisi yang tepat untuk mengemban peran ini," ujar Khofifah, dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan, para bidan dapat memberi penyuluhan terkait pola asuh yang benar bagi para ibu. Apabila para ibu mengonsumsi nutrisi yang cukup dengan pola hidup sehat, serta anak diasuh dengan penuh kasih sayang serta gizi tercukupi, maka risiko stunting dapat dihindari atau bahkan dihilangkan.

"Bidan ini peranannya sangat signifikan dalam penurunan angka stunting pada anak. Bidan adalah garda terdepan, ujung tombak tenaga kesehatan. Merekalah yang selalu mendampingi para ibu, baik semenjak awal kehamilan sampai sang anak mencapai usia lima tahun," katanya.

Khofifah mengungkapkan, prevalensi stunting di Jawa Timur butuh percepatan untuk mencapai target 14 persen di tahun 2024. Sedangkan, berdasarkan data Suvei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, saat ini tingkat stunting Jatim berada di angka 19,2 persen.

Apalagi, dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting, sasaran prioritas upaya percepatan pencegahan stunting menyasar kelompok prioritas yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0-23 bulan, atau disebut rumah tangga 1.000 Hari Pasca Kelahiran (HPK). Kelompok ini secara rutin bertemu dengan para bidan untuk memantau kesehatan sang anak.

Baca juga:
Kolam Renang Gratis di Surabaya untuk Anak Gizi Buruk dan Stunting

Sehingga Khofifah menekankan intervensi para bidan dalam menurunkan angka stunting, hingga mencapai target Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yaitu 14 persen pada tahun 2024.

"Di tiap kegiatan kami, Pemprov Jatim seringkali mengundang ibu hamil dan anak-anak untuk menerima penyuluhan dan bantuan gizi. Kami juga selalu menekankan pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak. Angka 14 persen ini bukan sekadar target, tapi menentukan masa depan bangsa," ungkapnya.

Sementara, Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo pun menegaskan pentingnya peran bidan dalam penurunan stunting. Karena peran bidan dalam mendampingi dan memberikan penyuluhan pada ibu hamil, tingkat stunting di Jawa Timur saat ini bisa turun di bawah 20 persen.

"Ada yang bilang bidan bukan segalanya, tapi tanpa bidan BKKBN bukan apa-apa. Jatim mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu turun 4.2 persen menjadi 19,2 persen pada tahun 2022. Angka ini di bawah 20 persen dari sebelumnya.

WHO mengamanahkan bahwa masimal angka stunting adalah 20 persen. Sebagai provinsi yang angka stuntingnya besar, tapi bisa turun di bawah 20 persen, saya rasa ini perkembangan besar," ucap dia.

Baca juga:
Pj Wali Kota Malang Beri Penghargaan Inovasi Pencegahan Stunting, Ini Daftarnya

Hal senada disampaikan Presiden Direktur Dexa Medika V, Hery Sutanto yang mengatakan bahwa sinergi antara banyak pihak, terutama pemerintah dan swasta, akan sangat berpengaruh bagi tingkat edukasi serta literasi seputar stunting.

Pihaknya optimis bahwa bersama Pemprov Jatim dan BKKBN, Dexa Medika akan dapat berkontribusi dalam kesehatan ibu hamil dan generasi mendatang.

"Dukungan dan peran swasta juga diperlukan dalam upaya ini. Kita akan terus melanjutkan upaya-upaya penurunan stunting ini sesuai dengan arahan BKKBN dan Ibu Gubernur," ungkap Hery Sutanto.