Pixel Codejatimnow.com

DPRD Ajak Pemkot Pikirkan Sisi Lain Revitasiliasi THR-TRS Surabaya

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Ni'am Kurniawan
A Hermas Thony (Foto: IG @ah_thony)
A Hermas Thony (Foto: IG @ah_thony)

jatimnow.com - Revitalisasi Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) mendapat respon beragam. Bahkan, banyak kalangan akademisi hingga politisi mempertanyakan desain baru, atau sisi lain dari tempat yang dikabarkan menjadi pusat hiburan warga Kota Pahlawan itu.

Wakil Ketua DPRD Surabaya A Hermas Thony mengungkapkan, revitalisasi THR dan TRS Surabaya perlu mempikirkan sisi lain dari adanya fasilitas hiburan di Surabaya. Bahkan, ia mendorong agar THR ini kembali memiliki ciri khasnya sebagai tempat sejarah.

"Di taman kota kan sudah banyak wahana bermain. Kasih hal yang berbeda. Pusat kajian kesenian dan kebudayaan dikuatkan, misal ada pusat remo di sana itu lebih bagus," ujar Thony, Senin (27/2/2023).

Politisi Gerindra Surabaya itu menambahkan, THR dan TRS adalah tempat iconik Surabaya yang kental dengan nuansa adat dan budaya Surabaya. Lokasi dimana pertunjukkan seni, ludruk, hingga tari biasa tampil dan latihan di sana.

Pintu masuk THR-TRS saat disegel 2018 silam (Foto: dok. jatimnow.com)Pintu masuk THR-TRS saat disegel 2018 silam (Foto: dok. jatimnow.com)

Ia juga mendorong, kajian revitalisasi THR dan TRS memiliki kematangan dalam berbagai hal. Namun, yang terpenting adalah sisi edukasi, dimana selain menjadi tempat hiburan, juga menjadi zona dimana anak-anak bisa belajar dan berekspresi disana.

Baca juga:
Pembangunan RS Surabaya Timur, Bukti Pemerataan Kesehatan Kota Pahlawan

"Ada sejarah yang berharga dikawasan tersebut," tegas Thony.

Saat ini, THR dan TRS masih mengkrak. Sejak tutup total pada 2018 lalu, gedung ludruk, ketoprak, wayang orang, dan Srimulat telah tertutup oleh pohon liar. Dinding dan atapnya telah dirambati tanaman liar bak rumah hantu.

Revitalisasi THR pun kini masih menunggu investor. Sebab, kekuatan APBD Pemkot Surabaya masih belum cukup untuk mengembalikan kawasa lahirnya ketoprak dan ludruk di Surabaya itu.

Baca juga:
DPRD Surabaya soal Festival Rujak Uleg: Cita Rasa yang Harus Dilestarikan

"Ada kesenian artinya ada senimannya. Untuk itu harus ada ekosistemnya. Sampai saat ini tempat itu ada di Surabaya, yakni THR," tandas Thony.