Pixel Codejatimnow.com

Ritual Megengan, Cara Umat Islam Banyuwangi Sambut Bulan Ramadan

Editor : Rochman Arief  Reporter : Eko Purwanto
Supartinem (66) dan kedua anaknya mempersiapkan olahan makanan untuk diantarkan ke tetangga dalam tradisi megengan. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)
Supartinem (66) dan kedua anaknya mempersiapkan olahan makanan untuk diantarkan ke tetangga dalam tradisi megengan. (foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Bulan suci Ramadan masih menyisakan beberapa hari lagi. Tapi warga Banyuwangi yang memeluk agama Islam terlihat bersiap menyambut bulan penuh ampunan.

Berbagai ungkapan rasa syukur dilakukan warga lewat tradisi turun-temurun. Salah satunya lewat tradisi 'Megengan', sebuah ritual klasik yang dilaksanakan umat Islam di Kecamatan Cluring jelang bulan Ramadan.

Para emak-emak sudah disibukkan dengan urusan dapur, dengan mempersiapkan olahan makanan berat sejak subuh. Megengan ini hampir mirip dengan tradisi Punggahan.

Pada dasarnya megengan ini diartikan lambang syukur dengan mengirimkan olahan makanan kepada sanak saudara maupun tetangga.

"Sudah jadi tradisi jelang Ramadan. Berkirim makanan yang kita olah sebelum subuh," kata Supartinem (66), warga dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluring, kepada jatimnow, Sabtu (18/3/2023).

Supartinem menambahkan, olahan menu masakan dalam ritual megengan bervariatif. Sebut saja sambal goreng, olahan mie, ayam bumbu, dan kudapan ringan menjadi menu tradisional dalam megengan.

"Kue-kue juga kita sertakan, selain olahan makanan berat yang sudah kita siapkan sebelumnya," ujarnya.

Nantinya, lanjut Supartinem, semua olahan diwadahi ke dalam wadah yang disebut kemarang. Bisa juga diletakkan di atas pelepah pisang yang dibentuk persegi atau biasa disebut encek.

"Sesuai selera. Kalau kita biasa pakai kemarang, lalu dibungkus plastik dan setelahnya langsung diantar ke tetangga dan saudara," ungkapnya.

Tak ada doa khusus dalam ritual megengan. Yang jelas, kata Supartinem, ini sebagai wujud syukur akan datangnya bulan Ramadan. Hanya saja diniatkan sebagai sarana sedekah kepada sesama umat muslim.

Baca juga:
Driver Ojek Online Jaket Kuning Bersih-bersih Pantai Pulau Santen Banyuwangi

"Tidak ada doa khusus. Kalau bersedekah dibarengi dengan doa, sambil mengucapkan niat dalam hati, meminta agar umat Islam selalu diberikan kelancaran saat menjalankan ibadah puasa," ucapnya.

Hal serupa juga dilakukan Fitri Nurita (36), warga Cluring yang mengaku sejak tengah malam menjelang mempersiapkan olahan makanan untuk megengan.

"Sejak tengah malam tidak tidur, untuk mempersiapkan semua (makanan). Kebetulan saya dibantu sama adik," ujarnya.

Sejauh ini Fitria mengakui tak begitu ingat menerima warisan budaya megengan. Menurutnya tradisi ini sudah ia lakukan sejak saat masih remaja. Toh tradisi luhur ini akan ia pertahankan dan ditularkan kepada anak-cucunya.

"Dulu hanya Bantu-bantu ibu. Berhubung sudah jadi kebiasaan keluarga, kami tetap meneruskan sampai sekarang," ungkapnya.

Baca juga:
Cak Lontong Dirujak Netizen usai Melotot dalam Kampanye 03 di Banyuwangi

Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LBM PCNU Banyuwangi), KH. Sholehudin mengatakan, Islam memang tidak mengenal ritual megengan. Ia menjelaskan, dalam Islam (megengan) bisa dimaknai sebagai ungkapan syukur akan datangnya bulan Ramadan dengan berbagi kepada sesama.

"Ini sebagai bentuk rasa tafakur, rasa gembira atas datangnya bulan Ramadan. Rasa gembira itu bisa dan boleh diwujudkan dengan berbagi," katanya.

Gus Sholeh, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ritual tersebut tidak diajarkan dalam lingkup pesantren. Dan lebih memaknai datangnya Ramadan dengan berziarah ke makam.

"Masing-masing pesantren ada yang menggelar (punggahan), ada yang tidak. Namun, kebanyakan lebih dimaknai dengan berziarah ke makam leluhur ataupun para ulama," pungkasnya.