Pixel Codejatimnow.com

Elektabilitas Anies Disebut Bisa Terdongkrak Bila Perpasangan dengan Dua Nama ini

Editor : Narendra Bakrie  Reporter : Ni'am Kurniawan
Anies Baswedan saat berada di Madura (Foto: Dok. jatimnow.com)
Anies Baswedan saat berada di Madura (Foto: Dok. jatimnow.com)

jatimnow.com - Dua nama disebut-sebut bisa mendongkrak elektabilitas Anies Baswedan agar bisa menang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Dua nama itu adalah Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Hal itu disampaikan Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Prof Saiful Mujani dalam program "Bedah Politik Bersama Saiful Mujani Episode: Mengangkat Anies: AHY atau Khofifah?" pada Kamis (6/4/2023).

"Jika Khofifah dipasangkan dengan Anies, punya probabilitas secara signifikan untuk menaikkan suara Anies. Demikian pula AHY, jika dipasangkan dengan Anies, suara Anies punya peluang untuk naik secara signifikan," ujar Prof Mujani dalam siaran resminya.

Dia menyebut bahwa AHY memiliki kelebihan untuk menaikkan elektabilitas Anies ketika harus berhadapan dengan Ganjar Pranowo dan pasangannya.

Baca juga:
Momen Muhaimin Ngacir Tinggalkan Anies Baswedan, Keburu Kemana?

Dalam skema survei SMRC, ada beberapa cawapres yang dipasangkan dengan Anies di Pilpres 2024. Dari simulasi itu, AHY sangat berpeluang karena mendongkrak suara pasangan tersebut dengan elektabilitas 47 persen.

"Jika berpasangan dengan AHY, suara Anies menjadi 47 persen dan Ganjar 42 persen," jelasnya.

Selain AHY, tokoh lain yang bisa mengisi suara Anies adalah Khofifah. Lantaran keduanya memiliki basis yang sama-sama kuat di Jawa Timur.

Baca juga:
Anies Baswedan: Pilpres 1 Putaran Membahayakan Demokrasi

Bedanya, secara signifikan Khofifah kuat di basis santri NU yang ada di wilayah Tapal Kuda. Sebaliknya, AHY yang merupakan anak SBY, memiliki basis di wilayah Mataraman.

"SBY adalah orang Pacitan dan punya basis yang sangat kuat di wilayah tersebut. Kemenangan Demokrat pada Pileg 2009 sekitar 20 persen dan mengalahkan PDIP adalah karena dukungan yang sangat kuat dari Jawa Timur. Jawa Timur adalah lumbung suara Demokrat ketika itu," tambahnya.