Pixel Code jatimnow.com

Mengenal Sosok Pahlawan Jenderal Moestopo, Patung di Pojok Kodim 0809 Kediri

Editor : Zaki Zubaidi   Reporter : Yanuar Dedy

jatimnow.com - Patung berukuran besar ini berdiri di pojok kanan Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0809 Kediri. Terlihat gagah, dengan sorot mata yang tajam. Tangan kiri menggenggam tongkat komando, tangan kanannya menunjuk ke depan dengan sikap yang tegas.

Ya, patung ini merupakan gambaran dari sosok Mayor Jenderal TNI Prof. DR. Moestopo, pahlawan nasional yang lahir di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pada 13 Juni 1913 silam.

Hari ini, monumen tersebut diresmikan tepat 110 tahun kelahirannya sebagai penghargaan, sekaligus mengenalkan sosok Moestopo kepada masyarakat di Kediri.

"Kami berharap Mayor Jenderal TNI Prof. DR. Moestopo, sosok pahlawan nasional asal Kediri ini bisa dikenal secara luas, secara khusus warga Kediri, secara luas warga Jawa Timur sampai nasional,” kata Letkol. Inf. Aris Setiawan, Komandan Kodim 0809 Kediri usai peresmian, Selasa (13/6/2023).

Lebih lanjut, Aris Setiawan juga berharap semangat Moestopo bisa terus terpancar dan selalu menjadi motivasi masyarakat, khususnya generasi muda di Kediri.

“Semoga semangat beliau selalu mengingatkan kita anak-anak bangsa untuk selalu berjuang demi kesehjateraan bangsa,” tambah Aris.

Moestopo merupakan pahlawan dengan gelar terbanyak di Indonesia. Aris Setiawan menyebut, Moestopo memiliki 18 gelar. Bahkan sejak usia 24 tahun, Moestopo sudah mendapat gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya.

"Beliau tercatat memiliki 18 gelar, bisa dibilang tentara dengan gelar terbanyak," terang Aris.

Moestopo memang sudah bercita-cita ingin menjadi dokter gigi sejak kecil. Setelah lulus sekolah menengah, dia mantap mendaftarkan diri ke Sekolah Kedokteran Gigi milik pemerintah Kolonial Belanda. Dia kemudian bekerja sebagai dokter gigi untuk pemerintah Jepang, sebelum memutuskan masuk pelatihan militer.

Moestopo menerima pelatihan militer pertama di Bogor bersama Sudirman dan Gatot Subroto. Mereka mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Selama pelatihan, Moestopo berhasil menggabungkan ilmu kedokteran dengan ilmu strategi perang.

Karena kecemerlangannya, Moestopo diangkat sebagai komandan Pembela Tanah Air (Peta) di Sidoarjo setelah lulus. Dirinya kemudian diangkat menjadi komandan pasukan yang mengamankan daerah Gresik dan Surabaya.

“Beliau seorang militer dan pendidik. Jadi keduanya sangat berhubungan untuk menjadikannya sukses. Semoga cita-cita dari pak Moestopo bisa menginspirasi kita semua,” kata keluarga Moestopo, Hermanto.

Baca juga:
Sederet Fakta Suami di Kediri Siram Air Keras Istri dan Anak Balitanya

Pada akhir Oktober 1945, pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya. Dalam berbagai literasi, Moestopo sebagai Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur, mendapuk dirinya sebagai Menteri Pertahanan RI ad interim sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur.

Bahkan karena itu, sempat terjadi adu mulut antara Moestopo dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Moestopo bahkan disebut rela untuk ditembak mati oleh Hatta dari pada harus dijajah bangsa lain. Beruntung Presiden Soekarno cepat melerai dan mengangkat Moestopo sebagai salah satu penasehat militernya.

Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), Moestopo aktif di berbagai peperangan. Namanya cukup harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena inisiatifnya membentuk Pasukan Tentara Rahasia Tertinggi (Terate) yang diambilnya dari lingkungan hitam seperti kaum pencoleng, perampok, dan pekerja seks komersial.

Moestopo juga pernah dikirim ke Subang, Jawa Barat pada 1946. Dia ditugaskan untuk menahan pergerakan tentara Sekutu yang diboncengi Belanda tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Masa perang akhirnya usai pada 1950, Moestopo pun turun gelanggang. Dia kembali menjadi dokter sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat di Jakarta, serta sering memberikan pelatihan militer.

Pensiun dari tentara, sosok yang dikenal sangat mencintai Tanah Air ini lebih banyak menjalankan kehidupannya di dunia pendidikan. Pada 1958, dia kemudian menggagas berdirinya Dental Collage yang berubah menjadi Universitas Moestopo Beragama pada 15 Februari 1961.

Baca juga:
Mas Dhito Beri Pesan Penting Atlet Kick Boxing Piala Bupati Kediri 2024

Sang jenderal pun mengabadikan sisa hidupnya untuk dunia pendidikan dan sosial kemasyarakatan hingga wafat pada 29 September 1986.

Universitas Moestopo juga hadir dalam peresmian ini. Pihaknya mengapresiasi langkah Kodim 0809 Kediri untuk mengenalkan sosok Moestopo lebih luas lagi.

Rektor Universitas Moestopo Prof. Dr. Paiman Raharjo, M.M.,M.Si., berharap ini benar-benar bisa mengenalkan sosok Moestopo, Pahlawan Nasional yang diangkat oleh negara pada tahun 2017, era Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Dandim 0809 Kediri atas berdirinya patung Moestopo ini,” tandasnya.

Peresmian patung Mayor Jenderal TNI Prof. DR. Moestopo, Pahlawan Nasional dari Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya
Jatim Memilih, Politik

Mencari Pemimpin Millenial untuk Surabaya

"Millenial perlu ruang, dan pengetahuan politik. Mereka butuh sosialisasi sehingga bisa memilih pemimpin yang tepat," ucap mantan Ketua PSI Surabaya, Erick Komala.