Pixel Codejatimnow.com

Keren! Kelompok Wanita Tani di Ponorogo Diajari Kembangkan Pengolahan Ikan Lele jadi Keripik

Editor : Arina Pramudita  Reporter : Ahmad Fauzani
Kelompok Wanita Tani di Ponorogo dapat pelatihan membuat keripik lele di dapur UMKM Lele Kembar. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)
Kelompok Wanita Tani di Ponorogo dapat pelatihan membuat keripik lele di dapur UMKM Lele Kembar. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Puluhan ibu-ibu berbondong-bondong ke rumah produksi UMKM Lele Kembar di Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (7/10/2023).

Mereka merupakan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, yang rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk mendapat pelatihan membuat keripik lele di UMKM Lele Kembar milik Suharni.

Di sana, ibu-ibu berkerudung merah dan kuning itu diberikan trik dan tips oleh Suharni untuk mengolah lele dan berbagai resep olahan lainnya, seperti  camilan kalsium ( Stik Kepala Ikan), pangsit pedas, stik labu kuning, stik sayur mayur, keripik bayam, dan rempeyek cabe. Semuanya merupakan camilan sehat dari olahan hasil perikanan dan pertanian.

Suharni membagi 50 anggota KWT menjadi 5 kelompok untuk memudahkan melihat langsung proses pembuatan makanan ringan di dapurnya.

“Mereka ingin tahu memproduksi keripik lele studi tirulah. Pengen tahu gimana membuat keripik ikan lele,” ujar Suharni.

Suharni menyebut bukan kali pertama menerima studi tiru dari kelompok ibu-ibu. Sebelumnya, ia juga menerima kunjungan siswa SMK untuk penelitian.

“Kalau yang ini petani. Mereka itu mempunyai banyak kolam ikan lele. Tetapi ya cuma dijual ikan lele segar tanpa diolah,” terang Suharni.

Baca juga:
Jalan Sedap Malam Surabaya Disterilkan Hari Ini, Ada Apa?

Suharni mengaku senang karena anggota KWT ingin berkembang. Dengan demikian, produk olahan dari hasil perikanan bisa meningkatkan perekonomian hingga berkali-kali lipat.

"Sehingga harga jual lele kolamnya bisa berkali-kali lipat dibanding dijual dengan lele segar saja," tuturnya.

Perangkat Desa Mojorejo, Imam Hanafi, menambahkan bahwa ada 50 anggota KWT yang berkunjung. Mereka dari KWT Bersemi dan Gemati. Ia berharap program studi tiru ini bisa berkelanjutan.

Terlebih studi tiru ini merupakan salah satu strategi pemberdayaan masyarakat. Terutama ibu-ibu yang tergabung pada KWT.

Baca juga:
Gandeng GPEI, Bank Jatim Beri Pelatihan ke Pelaku UMKM

Contohnya adalah saat ini ikan lele segar dijual seharga Rp23 ribu per kilogram. Jika berbentuk produk keripik lele, harganya bisa mencapai Rp15 ribu per 100 gram.

“Ibu-ibu petani ini dulu kami berikan fasilitas ikan lele. Sekarang memberdayakan ikan lelenya,” jelas Imam.

“Selain dijual langsung berupa ikan lele segar bisa diolah menjadi keripik lele. Jadi lebih tinggi harga jualnya. Dapur tetap ngebul,” tegasnya.