Pixel Codejatimnow.com

Lanskap Politik Pemilih Muda: Pilih Pemimpin yang Jujur dan Antikorupsi

Editor : Redaksi  
Suprihatin S.Pd., M.Med.Kom., Kepala Pusat Kajian Ilmu Komunikasi Prapanca, Stikosa AWS.
Suprihatin S.Pd., M.Med.Kom., Kepala Pusat Kajian Ilmu Komunikasi Prapanca, Stikosa AWS.

jatimnow.com - Pemilu 2024, bakal jadi ajang pesta demokrasi yang dinamis. Data survei yang dirilis Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan adanya pergeseran lanskap politik yang disebabkan oleh perubahan generasi pemilih yang bakal didominasi kelompok pemilih muda, generasi milenial dan generasi Z.

Survei yang dilakukan per Agustus 2022 itu menyebutkan, proporsi pemilih muda dalam kelompok usia 17-39 tahun mencapai 60 persen atau setara dengan 114 juta pemilih yang ikut berpartisipasi dalam perhelatan politik itu. 

Pergeseran minat mereka pada isu-isu politik dan karakteristik kepemimpinan nasional, mendorong perubahan pada karakter calon pemimpin yang diharapkan. Label merakyat dan sederhana yang selama ini menjadi modalitas para capres, bergeser pada harapan terhadap karakter calon pemimpin yang jujur dan antikorupsi.

Merujuk data CSIS, pemilih muda yang tertarik pada karakter calon pemimpin jujur dan antikorupsi berada pada angka 34,8 persen. Sementara itu, ketertarikan pemilih muda pada karakter pemimpin yang merakyat dan sederhana hanya di angka 15,9 persen.

Pergeseran tersebut diasumsikan terjadi karena meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap isu-isu korupsi dan kebutuhan untuk mengedepankan agenda-agenda pencegahan dan pemberantasan korupsi ke depan. Selain itu juga terjadi peningkatan kebutuhan terkait pemimpin yang berpengalaman, yaitu naik dari 8,7 persen pada 2019 menjadi 16,8 persen pada 2022.

Survei yang dilakukan pada 1.200 responden yang tersebar di 34 provinsi ini juga merekam sejumlah kompetensi yang dianggap perlu dimiliki pemimpin Indonesia ke depan.

Tiga kompetensi utama yang diinginkan oleh pemilih muda, di antaranya: kemampuan untuk melakukan perubahan (28,7 persen), kemampuan memimpin di saat krisis (21 persen), dan kemampuan membuat kebijakan yang inovatif (14,8 persen) serta kompetensi lainnya. Faktor inovasi dan kepemimpinan di saat krisis dipandang perlu dalam kepemimpinan ke depan. Tantangan di tingkat domestik dan global membutuhkan pemimpin yang cepat dalam mengambil keputusan dan mampu memimpin dalam situasi krisis.

Baca juga:
30 Petugas Pemilu di Jatim Meninggal, Sudah Terima Santunan dari KPU?

Isu-Isu Strategis

Pada aspek isu politik strategis, sebagian besar pemilih muda melihat isu ekonomi dan korupsi masih menjadi isu politik penting yang menarik minat mereka. Sebanyak 44,4 persen responden menaruh perhatian pada aspek peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Isu ekonomi lainnya berkait dengan akses terhadap lapangan kerja. Hal tersebut menjadi penting mengingat sebesar 15,4 persen responden mengaku tidak bekerja saat survei dilakukan.

Baca juga:
4 TPS di Lamongan Gelar Coblosan Ulang, Partisipasi Warga Turun Drastis

Isu lainnya adalah terkait pemberantasan korupsi sebesar 15,9 persen, demokrasi dan kebebasan sipil (8,8 persen), kesehatan (6,2 persen) dan lingkungan hidup (2,3 persen).

 

Ditulis oleh Suprihatin, S.Pd., M.Med.Kom., Kepala Pusat Kajian Ilmu Komunikasi Prapanca, Stikosa AWS.