Pixel Codejatimnow.com

Harga Telur Naik di Ponorogo, Warga Membeli Langsung dari Peternak

Editor : Endang Pergiwati  Reporter : Ahmad Fauzani
Peternakan ayam petelur di Ponorogo. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)
Peternakan ayam petelur di Ponorogo. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Harga telur ayam di pasar tradisional Ponorogo mencapai Rp29 ribu per kilogram. Harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp25 ribu.

Kenaikan ini dirasakan warga cukup besar dalam kurun waktu hanya seminggu terakhir. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian warga akan dampaknya terhadap biaya hidup sehari-hari.

Sebagian warga memilih untuk mencari alternatif pembelian telur yang lebih terjangkau. Salah satu pilihan adalah membeli langsung dari peternak ayam. Harga telur yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan dengan harga di pasar tradisional.

Fenomena ini terlihat di lokasi ternak ayam petelur milik Juremi di Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Warga terlihat antusias mendatangi peternakan tersebut untuk membeli telur ayam.

Eko Sri Yunita, salah seorang pembeli, mengatakan harga telur di peternakan tersebut hanya Rp25 ribu per kilogram. Ini membuatnya dapat lebih menghemat.

“Memang lebih murah. Di pasar Rp29 ribu per kilogram. Di kandang cuma Rp25 ribu," ungkapnya, Minggu (12/5/2024),

Tidak hanya karena alasan harga, namun juga kebiasaan membeli langsung dari peternak menjadi pilihan bagi sebagian warga saat harga di pasar dirasa tinggi atau ketika memerlukan telur dalam jumlah besar, seperti untuk keperluan hajatan.

Baca juga:
Harga Telur di Sidoarjo Merangkak Naik, Capai Rp32.000/Kg

"Saya biasanya beli ke peternak jika harga telur di pasar tinggi. Jika mau punya hajat dan memerlukan telur jumlah banyak juga ke peternak," kata seorang warga Desa Plunturan, Kecamatan Pulung.

Namun demikian, kenaikan harga telur ini hanya berdampak bagi konsumen, tetapi tidak bagi para peternak ayam petelur. Juremi, salah seorang peternak mengakui, meskipun harga telur naik, namun keuntungan yang diperoleh tidak mengalami peningkatan yang signifikan.

Hal ini terutama disebabkan oleh meningkatnya harga pakan seperti bekatul yang mencapai Rp5 ribu per kilogram.

Baca juga:
Harga Telur di Lamongan Tembus Rp31 Ribu/Kg, Susul Beras dan Cabai

Meskipun demikian, Juremi menyambut baik keputusan warga untuk membeli langsung dari peternak.

"Boleh-boleh aja kalau saya," katanya sambil tersenyum.

Dengan adanya kenaikan harga telur yang signifikan di pasar tradisional, keputusan warga untuk berbelanja langsung dari peternak menjadi salah satu solusi yang memungkinkan untuk mengatasi kenaikan biaya hidup, sambil juga memberikan dukungan langsung kepada para peternak lokal.