Pixel Codejatimnow.com

Menengok Kampung Gerabah di Probolinggo, Harga Cobek hanya Segini

Editor : Zaki Zubaidi  Reporter : Haryo Agus
Warga Desa Alas Kandang, Besuk, Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengrajin gerabah (Foto-foto: Haryo Agus/jatimnow.com)
Warga Desa Alas Kandang, Besuk, Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengrajin gerabah (Foto-foto: Haryo Agus/jatimnow.com)

jatimnow.com - Salah satu kekayaan budaya di Kabupaten Probolinggo, dapat ditemukan di Desa Alas Kandang, Besuk. Di sana, terdapat sentra kerajinan gerabah.

Saking banyaknya warga yang membuat gerabah, Desa Alas Kandang juga disebut sebagai kampung gerabah.

Hampir 80 persen warga di Dusun Nangger, Alas Kandang, bekerja sebagai pengrajin gerabah. Salah satunya Muhammad.

Muhammad belajar membuat gerabah dari orang tuanya, dan usahanya itu sudah turun temurun dari nenek moyangnya terdahulu.

Awalnya dia hanya membuat cobek dan tungku. Hingga akhirnya Muhammad belajar membuat patung di Bali untuk mengembangkan kemampuannya membuat gerabah.

"Saat ini sudah menjadi lokasi tempat edukasi para siswa untuk membuat gerabah," kata Muhammad pada jatimnow.com, Jumat (17/5/2024).

Bahkan, kemampuan Muhammad dalam membuat kerajinan gerabah sudah diakui di tingkat provinsi, terbukti dia mampu manyabet juara di lomba kerajinan tingkat provinsi.

Baca juga:
Sakit Hati Istri Digoda, Pria di Probolinggo Bunuh Tetangga

"Saya belajar membuat patung sampai ke Bali, Jember, dan kota lain untuk meningkatkan kemampuan," ujarnya.

Pembuat gerabah yang lain, Arif, mampu menjual gerabahnya hingga ke luar daerah Probolinggo. Bahkan Arif mampu menjual puluhan ribu cobek dan tungku setiap bulan.

"Setiap bulan saya ngirim ke Madura itu satu truk, jumlahnya sekitar 6000 biji. Kalau ke Jember 2000, Pasuruan juga sekitar 3000an. Belum kota yang lain," kata Arif.

Baca juga:
Siswi SMP di Probolinggo Diperkosa 3 Pria, Korban Dikalungi Celurit

Arif mengatakan, dirinya dibantu oleh 20 pekerja untuk memenuhi permintaan pembeli. Sebab, proses pembuatan gerabah, khususnya cobek dan tungku membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Ini dibuat dari tanah liat dibasahi terus dicampur pasir. Kemudian dicetak dan dijemur selama seminggu kalau cuacanya bagus. Kemudian di bakar selama 3 jam," ucapnya.

Arif menuturkan, dirinya menjual cobek dengan harga yang cukup murah. Untuk cobek yang ukuran kecil, Arif menjual dengan harga Rp3 ribu. Sedangkan untuk yang ukuran sedang Rp5 ribu, dan yang besar sekitar Rp10 ribu.