Pixel Code jatimnow.com

Eri Cahyadi akan Jadikan Surabaya Compact City, Beda dengan Bambang DH dan Risma

Editor : Endang Pergiwati   Reporter : Ni'am Kurniawan
Konsep Compact City menjadi bagian pembangunan rencana pembangunan jangka panjang yang disetujui bersama DPRD Surabaya dalam Sidang Paripurna (foto: Humas Pemkot Surabaya for jatimnow.com)
Konsep Compact City menjadi bagian pembangunan rencana pembangunan jangka panjang yang disetujui bersama DPRD Surabaya dalam Sidang Paripurna (foto: Humas Pemkot Surabaya for jatimnow.com)

jatimnow.com - Belum tuntas satu periode menjabat wali kota Surabaya, Eri Cahyadi ingin mengusung konsep berbeda dengan masa kepemimpinan wali kota sebelumnya, Bambang Dwi Hartono (DH) dan Tri Rismaharini.

Anak didik Risma tersebut akan sedikit banyak merombak konsep kota dengan tagline "Kota Smartcity" menjadi "Compact City".

Saking seriusnya, konsep tersebut bahkan masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Surabaya untuk 20 tahun kedepan, periode 2025-2045.

Rancangan tersebut nampaknya telah memenuhi kajian dari berbagai stakeholder, karena juga telah disetujui dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD Surabaya, Kamis (4/7/2024).

"Diharapkan dalam jangka panjang nanti tidak terjadi lagi kemacetan di Surabaya, kemudian membuat jarak tempuh dan biaya rendah dari segi transportasi. Bagaimana menjadikan sebuah kota efisien dengan mendekatkan fasilitas publik kepada warganya," ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Surabaya, Irvan Wahyudradjat, dalam siaran resminya.

Menurut Irvan, konsep Compact City adalah bagaimana masyarakat bisa merasakan fasilitas publik dengan efisiensi, dalam hal waktu dan biaya yang rendah. Dengan penerapan compact city, nantinya ditargetkan Surabaya bisa menuju kota dunia.

"Targetnya kota dunia. Saat ini Kota Surabaya menurut UN-Habitat dirangking 280, targetnya 20 tahun ke depan bisa mencapai posisi 260 dunia," terangnya.

Baca juga:
Pergoki Tarif Parkir Mahal, Eri Cahyadi: Ngerusak Suroboyo Awakmu!

Diketahui bersama, tagline pembangunan dalam setiap ibu kota di Indonesia memiliki nama yang beragam. Istilah inj yang kemudian menjadi julukan besarnya kota tersebut, layaknya Compact City yang akan diusung oleh Eri Cahyadi, Jakarta bahkan lebih dahulu mencetuskan istilah sebagai kota Megapolitan.

Untuk diketahui, makna dari Compact city adalah kota yang tak menafikan kepadatannya. Namun, tetap memberi kenyamanan untuk dihuni warga. Compact city tetap menyediakan ruang yang cukup untuk bisa bersosialisasi, bermain, dan menuju ke tempat kerja dengan jarak tempuh singkat bahkan nyaman dengan berjalan kaki.

Compact city intinya berprinsip untuk menata kota sedemikian rupa agar warganya dapat melakukan semua kegiatan dan menjangkau kebutuhan sehari-hari hanya dalam jarak beberapa langkah saja.

Sebelumnya, konsep Smart City untuk Surabaya tercetus sejak tahun 2002, dibawah kepemimpinan wali kota saat itu Bambang DH dan diteruskan Tri Risma Harini. Konsep kota Smart City alias kota cerdas. Konsep ini di terapkan Pemkot Surabaya kepada setiap warga yang hidup didalamnya.

Baca juga:
8 Misi Pembangunan Jangka Panjang Surabaya 20 Tahun ke Depan

Secara garis besar, konsep kota cerdas ini di implementasikan pada penggunaan komputasi cerdas yang mengintegrasikan komponen penting dari insfrastruktur dan layanan kota Pahlawan.

Secara makna, Smart city adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk, menggunakan sumber daya secara efisien, dan menyediakan layanan publik yang lebih baik. Salah satu teknologi yang menjadi tulang punggung pengembangan Smart City adalah Internet of Things (IoT).

IoT adalah jaringan perangkat elektronik yang terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui internet. Dengan mengintegrasikan IoT ke dalam konsep pengembangan Surabaya Smart City, kota ini akan menjadi lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan.