Pixel Code jatimnow.com

Pilbup Jember 2024, Pengamat Nilai Wakil dari Pesantren Bukan Jaminan

Editor : Yanuar D   Reporter : Sugianto
DR. Wildan Hefni pengamat politik dari UIN KHAS Jember (dok. Humas UIN KHAS Jember)
DR. Wildan Hefni pengamat politik dari UIN KHAS Jember (dok. Humas UIN KHAS Jember)

jatimnow.com - Dalam kontestasi Pemilihan Bupati (Pilbup) Jember 2024, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, DR. Wildan Hefni menilai, sosok wakil dari kalangan pondok pesantren bukanlah jaminan. Masyarakat yang semakin cerdas, cenderung melihat rekam jejak calon.

Saat ini di Jember, memang banyak calon telah bermunculan, seperti Muhammad Fawait, incumbent Hendy Siswanto, dr. Faida, dan H. Nanang Handono Prasetyo. Namun, tidak satupun dari nama-nama tersebut mendeklarasikan pasangan mereka.

Hanya pasangan jalur independen atau perseorangan yang hadir dalam satu paket, yakni Mochammad Jaddin Wajad dan Arismaya Parahita.

Sejumlah pihak menilai, wakil dari kalangan pesantren adalah yang paling pas.

DR. Wildan Hefni pun tak menampik bahwa memang tingkat keterpilihan dan popularitas di Jawa Timur kalangan pesantren di atas rata-rata, karena segmentasi masyarakat kepada tokoh pesantren sangat kuat. Namun, kapasitas calon juga sangat mempengaruhi.

"Tapi untuk kemudian kans keterpilihannya menjadi cawabup hingga terpilih, itu tetap lari kepada kapasitas sendiri," ungkap pria yang memperoleh gelar Doktor Bidang Pemikiran Ilmu Politik Islam di UIN Syarif Hidayatullah itu, Jumat (6/7/2024).

"Karena persoalan kepemimpinan itu bukan satu sisi persoalan administratif, itu menjadi baru ujicoba juga, punya pengalaman apa tidak untuk menjadi seorang pemimpin," sambung Wildan. 

Di samping itu, menurut Dosen UIN KHAS Jember, setiap tim memiliki tim survey untuk melihat popularitas, elektabilitas dan kapasitas dari calon pesantren tersebut. 

Baca juga:
Survei LPPM: Gen Z dan Millenial Jember Condong Pilih Faida

Bahkan mungkin juga, pikiran masyarakat sekarang sangat cerdas, tidak melihat dari latar belakang pesantren atau tidak. 

"Mungkin sekarang mengalami penurunan, jadi mereka bisa melihat rekam jejak dan kapasitas," tutur Wildan. 

Banyak pemilih menilai, sosok pemimpin keagamaan dari pesantren memiliki daya tarik yang mengayomi. 

"Menurut saya seorang pemimpin tidak bisa diukur hanya gara-gara itu saja, mungkin bisa rekam jejak atau kapasitas," akunya. 

Baca juga:
Berikut Nama Bacabup Bacawabup Jember, Hanya Gus Fawait Dapat Rekom Partai

Memang, belakangan dari pesantren menjadi sosok pimpinan pada instansi tertentu, yang sifatnya masih sangat sempit. Tentu juga ada ujian, apakah tokoh pesantren punya rekam, jejak pengalaman seperti apa.

Secara idealis menempatkan seseorang yang tidak punya rekam jejak, tidak punya pengalaman, tidak punya kapasitas dan lain sebagainya, masuk dalam dunia birokrasi menurutnya masih belum cukup. 

"Kita juga tidak tahu, bagaimana peta politik atau mungkin sudah ada penataan nama-nama yang beredar untuk mencari Cawabup," urainya. 

"Karena setiap calon, pasti menginginkan menang dan tidak sekedar coba-coba," pungkasnya.