jatimnow.com

Banyuwangi Raih Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik

Editor : Arif Ardianto Reporter : Hafiluddin Ahmad
Kemenpan RB saat memberikan penghargaan Top 99 SINOVIK, Rabu (19/9/2018) malam. 🔍
Kemenpan RB saat memberikan penghargaan Top 99 SINOVIK, Rabu (19/9/2018) malam.

jatimnow.com – Inovasi Gancang Aron Banyuwangi terpilih masuk Top 99 Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) yang digelar Kementerian Pendayagunaan dan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi (KemenPAN & RB).

Program Gancang Aron ini berhasil dinobatkan sebagai 99 inovasi terbaik dari 2.824 inovasi di seluruh Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri PAN&RB, Syafruddin di Hotel Shangrila Surabaya, Rabu (19/9/2018) malam.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Djadjat Sudradjat menerima penghargaan tersebut mewakili Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Gancang Aron akronim dari Gugus Antisipasi Cegah Antrian Panjang Dengan Antar Obat ke Rumah Pasien, yang dalam bahasa lokal artinya ‘Lekas Sembuh’. Program ini diluncurkan sejak November 2017 lalu.

Loading...

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan munculnya inovasi ini berawal dari keluhan masyarakat terkait lamanya antrean dalam pelayanan obat.

Dalam beberapa kasus penyakit, penyiapan obat memang membutuhkan waktu karena harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker.

”Kasihan pasiennya. Sudah sakit, masih disuruh menunggu obat. Lalu kami coba atur strategi sampai lahir inovasi ini. Setelah berobat, pasiennya bisa langsung pulang beristrirahat di rumah. Obatnya nanti diantar setelah disiapkan apoteker. Gratis," ungkap Anas.

Program itu kemudian diberi sentuhan inovatif tambahan dengan menggandeng Go-Jek. Sebab, ia menilai personel dan armada kendaraan rumah sakit di Banyuwangi sangat terbatas, sehingga dia berkolaborasi dengan Go-Jek.

“Dengan kolaborasi ini, kami lebih hemat karena tidak perlu pengadaan armada kendaraan,” ujarnya.

Meski diantar Gojek, rumah sakit milik pemerintah daerah itu tetap memantau ketepatan pengiriman obat.

“Sebelumnya, pasien telah diedukasi tentang obat yang dikonsumsinya saat menyerahkan resep,” ujarnya.

Untuk memastikan bahwa obat diterima dengan tepat oleh pasien, maka driver Gojek diberikan pendidikan khusus, sehingga tidak semua driver Go-Jek bisa mengantar obat.

“Kita seleksi dan kita berikan pendidikan khusus. Selain itu, juga ada sistem pengamanan lain untuk memastikan obat sampai serta informasi tentang obat itu sendiri tersampaikan dengan baik ke pasien," papar Anas.

Berkat program ini, keluhan pasien akan pelayanan obat menjadi jauh berkurang. Selain itu, waktu tunggu antrian menjadi lebih pendek.

"Yang dulunya bisa mencapai 240 menit, sekarang waktu tunggu antrian dipangkas maksimal 60 menit," kata Anas.
Direktur RSUD Blambangan, dr Taufik Hidayat menambahkan, ada sejumlah prosedur lain yang harus dilalui dalam program ini selain pendidikan untuk driver.

Di antaranya, apoteker menentukan terlebih dahulu obat-obatan yang dapat diantar dan tidak untuk menjaga keamanan, fungsi dan kualitas obat.

"Obat juga dikemas khusus menggunakan plastik hitam agar tidak terkena matahari dan tak terbaca," jelasnya.

Selain sinergi dengan Gojek, program layanan antar obat ‘Gancang Aron’ ini juga menyediakan pelayanan “home care”, di mana apoteker mendatangi warga yang membutuhkan edukasi lebih tentang pengobatannya.

“Layanan ini untuk kasus penyakit tertentu yang butuh edukasi ekstra. Misalnya, penyakit TBC,” ujarnya.