jatimnow.com
Pelajar SMA Negeri 9 Surabaya Isi Nilai UTS dengan Olahraga Bowling

Para siswa berlatih bowling

jatimnow.com - Sampai saat ini olahraga bowling di Indonesia masih kurang populer. Sehingga, pembentukan calon atlet dan juga prestasi tidak sebanyak cabang olahraga seperti bulutangkis, sepakbola maupun lainnya.

Namun, hal itu malah menjadi cambuk semangat bagi SMA Negeri 9 Surabaya. Pasalnya, sekolah yang beralamatkan di Jalan Wijaya Kusuma 48 Surabaya itu, melakukan latihan atau coaching klinik bersama Djoko Jatmiko Ketua Persatuan Bowling Indonesia (PBI) Surabaya.

Muhtar, Guru olahraga SMA Negeri 9 Surabaya mengungkapkan, memang banyak faktor yang menyebabkan bowling kurang diminati masyarakat Indonesia.

Mulai dari fasilitas, sarana, hingga kepedulian pemerintah. Sebagian orang bahkan men"cap" olahraga bowling adalah olahraga mahal.

Namun, dengan mengajak siswanya ke Kaza City Mall Jumat (6/10/2018) dengan tujuan mengisi nilai ujian tengah semester (UTS) minimal dua bulan sekali, mampu memancing serta menilai bakat yang dimiliki siswa-siswinya.

"Ya memang bukan ekstra kurikuler, tapi kegiatan ini dilakukan untuk mengisi nilai UTS. Awalnya, kami tawarkan penambahan nilai UTS itu antara renang dan bowling tapi anak-anak banyak yang memilih bowling, akhirnya Jumat (6/10/2018) sepulang sekolah kami berlatih di Kaza," tutur Muhtar, Minggu (7/10/2018).

Selain mengisi nilai UTS, tambah Muhtar, kegiatan bowling yang dilakukan bersama puluhan siswanya juga untuk mengenalkan dan menjaring bibit-bibit muda atlet bowling.

"Dana dari kegiatan ini memang telah disepakati oleh anak-anak untuk iuran peranak Rp 35 ribu dan tadi juga dibantu berlatih oleh ahlinya. Selain mencari bibit-bibit baru ini, kita juga mengajak refreshing melalui olahraga," tutur Muhtar.

Sementara itu, Farhan Yuko P siswa kelas XII IPA 5 SMA Negeri 9 Surabaya mengaku senang dengan mengikuti bowling itu.

Menurutnya selain dirinya sudah pernah mengikuti kejuaraan bowling tingkat Kejurprov dan open, juga bisa mengasah ketajaman untuk melempar bola berat bowling itu.

"Ya dulu sebelum mengikuti kejuaraan, awalnya hanya mencoba-coba untuk ikut bowling, tapi lama-lama ketrampilan kita dapat diasah," jelas Farhan.

Lain halnya dengan Gusti Putu Devandra, siswa kelas XII IPA 3, penambahan nilai UTS sangat perlu, sehingga dirinya lebih memilih bowling karena ia suka bermain bowling.

"Lebih enak bowling daripada berenang, bisa bermain secara bersama sama, semoga kedepannya ada kegiatan serupa," kata Gusti.

Djoko Jatmiko Ketua Persatuan Bowling Indonesia (PBI) Surabaya mengungkapkan, pihaknya setiap tahun hanya bisa menjaring 10 atlet saja. Artinya pergerakan olahraga ini dari tahun ke tahun kurang diminati.

"Ya kalau ada pelajar yang berlatih bowling di sini kami sangat senang. Karena selain dari club, cara kami mendapatkan bibit muda ya dari acara-acara sekolah seperti ini," paparnya.

Kendati demikian Djoko tetap gencar memasyarakatkan bowling agar bisa mengikis sedikit demi sedikit persoalan yang melingkupinya.

Loading...

"Sebenarnya olahraga ini sama dengan olahraga lainnya, sebenarnya bowling memiliki karakter tersendiri. Tidak hanya fisik, dan skill tapi juga kecerdasan, serta kecermatan," kata Djoko.

Pria yang juga sebagai management di Kaza Bowling Alley ini, saat melatih pengujung ia menerangkan seputaran teknik-teknik dasar, hingga lemparan bola hingga tepat sasaran.

"Tadi para siswa saya kasih arahan apa sih softball itu, cara melempar bolanya seperti apa, terus agar tidak salah lempar itu seperti apa," papar Djoko.

Berita Terkait