jatimnow.com - Affan Kurniawan, 21 tahun, bukan siapa-siapa di mata negara. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang saban hari berjuang mencari nafkah.
Namun, kematiannya di bawah roda rantis Brimob telah mengubah dirinya menjadi simbol: simbol bahwa di republik ini, nyawa rakyat kecil bisa begitu murah, sementara kursi kekuasaan begitu mahal.
Kematian Affan bukan sekadar kecelakaan tragis. Peristiwa itu adalah cermin retak yang menampakkan wajah asli bangsa ini: aparat yang gagap, elite politik yang arogan, dan rakyat yang kian putus asa.
Mari kita bicarakan sedikit tentang DPR. Dari 41 RUU yang ditargetkan, hanya tiga yang disahkan. Itu pun penuh kontroversi. Lalu apa kabar di Senayan?
Alih-alih memperbaiki kinerja, mereka justru sibuk mengutak-atik tunjangan. Gaji mereka sudah di atas Rp100 juta per bulan. Tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Belum fasilitas lain yang membuat hidup serba nyaman.
Pertanyaan sederhananya adalah: pantaskah mereka menambah kemewahan, sementara rakyat di luar gedung DPR harus berdesak-desakan mencari rezeki, bahkan sampai ada yang meregang nyawa di tengah demonstrasi?
Bandingkan dengan Affan. Untuk menutup kontrakan Rp700 ribu saja, ia harus menarik order siang malam. Bandingkan dengan buruh yang minta kenaikan gaji 8,5 persen saja sudah ditolak mentah-mentah. Sementara wakil rakyat dengan enteng menambah 35 kali lipat dari rata-rata gaji buruh. Jika ini bukan arogansi, lalu apa namanya?
Aksi unjuk rasa besar pun pecah. Awalnya damai. Tapi ketika gas air mata ditembakkan hingga ke perkampungan, amarah berubah jadi bara. Hingga lahirlah tragedi Affan.
Apa kata aparat? “Saya hantam saja.” Kalimat dingin yang memperlihatkan betapa rapuhnya komitmen negara melindungi rakyatnya. Nyawa manusia direduksi menjadi sekadar hambatan operasi.
Baca juga:
Prabowo Perintahkan Kapolri dan Panglima TNI Tindak Tegas Aksi Anarkis
JK, mantan Wapres, sudah mengingatkan DPR: jangan asal bicara, jangan menghina rakyat. Tapi apakah mereka mau mendengar? Atau suara rakyat kembali ditelan ruang sidang ber-AC, kursi empuk, dan tunjangan mewah yang membius nurani?
Presiden Prabowo menyeru agar rakyat tenang dan percaya. Tetapi kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta. Kepercayaan hanya tumbuh jika negara berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan berani memperbaiki diri. Sayangnya, yang terdengar masih narasi stabilitas rapuh, artifisial, dan tidak menyentuh akar masalah.
Tragedi Affan seharusnya jadi pelajaran untuk semua pihak. Bagi aparat: bahwa senjata, gas air mata, dan rantis tidak boleh menggantikan nurani. Bagi pendemo: bahwa aspirasi harus tetap damai dan terarah.
Bagi DPR: bahwa setiap rupiah tunjangan yang mereka nikmati berasal dari keringat rakyat, dari jerih payah buruh, dari perjalanan ojol seperti Affan. Janganlah fasilitas itu menjadi pemicu kemarahan baru.
Dan bagi pemerintah: jangan pernah lupa, legitimasi tidak dibangun dengan retorika. Legitimasi hanya lahir dari keberpihakan nyata, dari empati, dari kesediaan untuk hidup sederhana di tengah rakyat yang hidup serba susah.
Baca juga:
Gus Lilur: Jangan Sampai Gerakan Diklaim Aktivis 98!
Affan sudah pergi. Tapi namanya abadi sebagai pengingat: bahwa republik ini bisa jatuh, bukan karena kurangnya undang-undang, melainkan karena hilangnya keadilan.
Pertanyaannya, beranikah kita, pemerintah, DPR RI, aparat, dan rakyat, menjadikan tragedi Affan sebagai titik balik? Atau kita biarkan ia hanya jadi satu catatan hitam yang segera dilupakan, sementara arogansi elite kembali berpesta?
Penulis: Ulul Albab (Akademisi FIA UNITOMO Surabaya)
URL : https://jatimnow.com/baca-78656-affan-dpr-dan-cermin-retak-negeri-ini