Pixel Code jatimnow.com

Icheiko Ramadhanty Lantangkan Suara Perempuan Pesisir di Forum Iklim COP30

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Acara Net Zero Hero yang digelar Icheiko bersama Gawirea (Foto/Dok Gawirea)
Acara Net Zero Hero yang digelar Icheiko bersama Gawirea (Foto/Dok Gawirea)

jatimnow.com - Tahun 2025 diprediksi menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah. Bagi Icheiko Ramadhanty, ancaman ini sangat nyata. Ia melihat langsung dampaknya di desa-desa pesisir Indonesia: naiknya permukaan laut, perubahan cuaca ekstrem, dan penurunan hasil tangkapan nelayan.

"Contohnya di Ambon. Saya melihat sendiri bagaimana perempuan pesisir di sana harus kehilangan penghasilan dari menjual olahan ikan, karena laut makin tercemar dan hasil tangkapan makin sedikit," ujar Icheiko.

Bulan ini, Icheiko hadir di forum iklim terbesar dunia, COP30, di Belem, Brasil (hingga 21 November 2025). Ia menjadi salah satu dari 16 pemimpin muda Global Selatan yang terpilih oleh Life of Pachamama, sebuah organisasi yang bermarkas di Kolombia.

Sebagai Communications and Community Development Manager di GAWIREA (Girls and Women in Renewable Energy Academy), Icheiko fokus membantu masyarakat pesisir memahami energi terbarukan dan ketahanan iklim. Ia membawa suara perempuan, masyarakat pesisir, dan anak muda Indonesia untuk mendorong keadilan iklim.

"Dalam COP30, saya ingin lebih bersuara dalam menekan negara-negara kaya dan pencemar utama menunaikan tanggung jawabnya, yaitu menghadirkan pendanaan iklim yang memadai, tanpa menambah utang dan tanpa syarat, serta memastikan Loss and Damage Fund benar-benar terisi dan bisa diakses oleh yang membutuhkan," tegasnya.

Icheiko mengingatkan bahwa COP30 berlangsung di tengah situasi global yang terpolarisasi, namun juga penuh peluang.

"Di satu sisi, kita menyaksikan ketidakpastian politik dan komitmen yang goyah, bahkan dari negara maju. Di sisi lain, transisi menuju energi terbarukan tumbuh pesat dan menjadi harapan nyata bagi masa depan. Namun, semua ini tidak akan berarti tanpa keadilan iklim."

Melalui GAWIREA, Icheiko membangun pemahaman tentang energi terbarukan di komunitas yang paling terdampak krisis iklim. Bersama timnya, ia menjalankan program Net Zero Heroes, kurikulum pembelajaran energi bersih yang sudah menjangkau lebih dari 1.000 orang muda di Indonesia dan Asia Pasifik. Sekitar 80 persen peserta adalah perempuan.

"Kami ingin orang muda tahu apa itu krisis iklim dan paham langkah praktis untuk menanganinya," kata Icheiko.

Program ini mengajarkan dasar transisi energi, keadilan iklim, dan cara mengembangkan proyek kecil di komunitas. Alumni program ini kini menjalankan inisiatif seperti pengolahan sampah rumah tangga, konservasi mangrove, dan pemanfaatan panel surya di daerah terpencil.

Bagi Icheiko, memperjuangkan energi bersih berarti memberi ruang bagi masyarakat untuk bertahan. Ia melihat ketimpangan besar dalam akses terhadap listrik dan teknologi.

Baca juga:
Mengenal Superflu H3N2, Varian Baru Influenza yang Kini Masuk Indonesia

"Banyak keluarga di daerah pesisir atau pulau kecil masih bergantung pada genset. Sementara kota besar membicarakan mobil listrik. Kesenjangan ini harus diubah," ujarnya.

Kiprah Icheiko membawanya terpilih di antara 16 pemimpin muda dari tiga benua yang mewakili lebih dari 10.700 peserta dari negara-negara Selatan dalam program Pathway to the Democratization of the South, yang dipimpin oleh Life of Pachamama. Hasilnya adalah Deklarasi Pemuda Selatan Global, yang diserahkan di COP30.

Deklarasi tersebut menyerukan agar negara-negara maju menunaikan tanggung jawab iklimnya secara adil, pendanaan iklim yang bebas utang dan tanpa syarat, pelibatan orang muda dalam setiap tahap kebijakan, serta akuntabilitas perusahaan atas kerusakan lingkungan.

Direktur Eksekutif Life of Pachamama, Juan David Amaya, menegaskan bahwa COP30 menjadi momentum penting bagi generasi muda Selatan Global.

"Selama bertahun-tahun, wilayah Selatan hanya dipandang sebagai korban dari krisis iklim," ujarnya.

"Delegasi yang terdiri dari orang muda dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa kami adalah wilayah, gagasan, dan kekuatan politik. Kami tidak ingin sekadar mendapat tempat simbolis; kami menuntut agar keputusan kami juga diperhitungkan dalam membangun perjanjian iklim yang baru," lanjut dia.

Baca juga:
Duka Aceh-Sumatra, PP PMMBN Serukan Jihad Ekologis Lawan Kerusakan Hutan

Icheiko menyebut Democratization of the South sebagai gagasan penting untuk mengubah struktur pengambilan keputusan global.

Baginya, demokratisasi berarti mengembalikan kendali dan ruang keputusan kepada negara-negara Selatan Global, karena mereka yang paling terdampak oleh krisis, namun paling sedikit memiliki kuasa dalam menentukan arah solusinya.

"Suara kami tidak boleh hanya didengar; kami harus menjadi bagian dari pengambil keputusan," tegasnya.

Ia berharap peran anak muda terus berlanjut melalui aksi nyata di tingkat komunitas. Ke depan, ia berharap semakin banyak ruang kolaborasi yang menghubungkan anak muda, komunitas lokal, dan sektor swasta maupun pemerintah.

"Supaya gerakan iklim tidak berhenti di kampanye, tapi tumbuh menjadi ekosistem yang mendukung energi terbarukan, ekonomi biru, dan ketahanan masyarakat dari akar rumput," pungkasnya.