Pixel Code jatimnow.com

Tren Kasus Bullying Anak di Malang Naik, Polisi Ungkap Penyebab Utamanya

Editor : Bramanta   Reporter : Avirista Midaada
Foto: Sosialisasi bullying di SMPN 3 Kota Malang oleh Polresta Malang Kota (Aris / Jatimnow)
Foto: Sosialisasi bullying di SMPN 3 Kota Malang oleh Polresta Malang Kota (Aris / Jatimnow)

jatimnow.com-Kasus bullying atau perundungan yang ditangani polisi di Kota Malang mengalami peningkatan dari 2024 hingga 2025 ini. Maraknya bullying ke anak di Kota Malang itu bahkan ada yang membuat korbannya hingga depresi berat dan harus dirujuk ke rumah sakit jiwa.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Iptu Khusnul Khatimah menyatakan, sebanyak enam laporan masuk ke selama tahun 2024. Jumlah ini naik pada 2025 hingga bulan November, ada 8 laporan bullying. Dari kasus-kasus yang ditangani, mayoritas korbannya mengalami bullying lebih dari satu kali hingga menyebabkan luka psikis berkepanjangan.

"Kalau untuk di Malang, dampak yang paling buruk yang sudah kami alami yaitu gangguan mental. Karena korban bullying ini rupanya tidak hanya sekali dua kali, tidak hanya sehari dua hari, tapi dia berkelanjutan di sekolah itu," ujar Khusnul Khatimah usai kegiatan sosialisasi bullying di SMPN 3 Kota Malang, Rabu (26/11/2025).

Dari total 14 kasus dalam kurun waktu dua tahun terakhir, ada yang masih harus dirawat dan didampingi kejiwaannya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena dampak yang cukup parah dan susah diajak berkomunikasi. Mayoritas korbannya pun berasal dari jenis kelamin laki-laki, meskipun banyak juga perempuan di bawah umur yang mendapat tindakan bullying.

"Ada korban kami yang sampai sekarang ini masih terus komunikasi tentang pembinaan dari psikolog, kemudian ada yang kita rujuk ke RSJ juga ada, karena dampak dari bullying ini adalah luar biasa," tuturnya.

Menurutnya, peningkatan kasus bullying di Kota Malang ini disebabkan banyak orang tua yang mulai abai terhadap anaknya. Para orang tua itu merasa bahwa pendidikan anak sudah diserahkan ke sekolah, sehingga mereka lepas tanggung jawab akan pengawasan dan pemberian perhatian kasih sayang ke anaknya.

"Anak-anak ini butuh perhatian, dan butuh peran orang tua, peran lingkungan sekitar, dan peran guru. Anak-anak butuh peran orang tua ini karena apa, orang tua ini kadang kan menyerahkan anak-anak di sekolah. Tapi orang tua ini kadang kurang menyentuh anak-anak. Padahal orang tua sekarang ini seharusnya menjadi teman untuk anak-anaknya," paparnya.

Maka ketika faktor internal keluarga mendorong adanya kesempatan bullying muncul, ditambah ada faktor eksternal seperti kesalahpahaman hingga pergaulan yang salah, jadi kunci utama terjadinya bullying. Khusnul mencontohkan, bagaimana insiden bullying yang tengah ramai di Kota Malang saat ini terkait bullying tiga remaja perempuan ke satu korban temannya yang juga masih anak-anak di sekitar makam.

Baca juga:
Tebing 35 Meter Jalur Wisata Bromo Via Malang Longsor

"Kadang pelaku ini pengen dilihat hebat. Kadang pelaku ini sebenarnya ada cuma salah paham sedikit. Terus mereka ini sudah punya geng, teman-temannya kalau ada masalah, pengen nyelesain kasus ini. Istilahnya daripada digebukin sama sana, mending kita gebukin. Terus pelaku ini pengen dilihat dia kuat lebih kuat daripada korban," ungkapnya.

Pasca insiden bullying itu pihaknya menggandeng dinas terkait juga terus menyosialisasikan ke sekolah-sekolah akan bahaya bullying atau perundungan ini. Sejauh ini sudah ada 5 - 6 sekolah yang dijadikan ajang sosialisasi menghindari meluasnya bullying yang terjadi.

"Sosialisasi ke pihak-pihak sekolah, kadang kita pada saat sosialisasi seperti ini ya kita sekalian koordinasi dengan sekolah. Kemudian pada saat kasus bullying, kami pasti melibatkan pihak sekolah, pihak diknas, itu pasti kami libatkan semua," ucapnya.

Di sisi lain, Sabrina Fitrah Kirana siswi SMPN 3 Kota Malang mengungkapkan, selama ini ia memang sudah mengetahui tentang bullying, tapi ia baru mengetahui bila dampak bullying bisa berkepanjangan hingga menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya sendiri.

Baca juga:
Usai Ditetapkan Sebagai Tersangka, Yai Mim Mengaku Sebagai Pasien RSJ Malang

"Sosialisasi kayak gini sangat penting, bisa saja jika tidak sosialisasi ini banyak anak yang jadi korban bullying, mereka juga tidak tahu dampak yang terjadi jika melakukan bullying," pungkasnya.