jatimnow.com - Pemerhati satwa liar, Singky Soewadji, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi hutan Indonesia yang terus menyusut. Koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI) ini mengkritik pemerintah dan menyerukan upaya penyelamatan hutan yang lebih serius.
Singky Soewadji menegaskan pentingnya fungsi hutan dalam meminimalisir bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, menyediakan sumber air bersih, serta memenuhi kebutuhan nabati dan hewani masyarakat.
"Hutan meminimalisir bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Hutan juga meminimalisir bencana kekeringan, karena menyediakan kebutuhan air dari sumber mata air bersih alami," tegasnya.
Berdasarkan data Badan Informasi Geospasial (BIG), luas hutan Indonesia pada tahun 2022 tinggal 102,53 juta hektare (Ha), menyusut sekitar 1,33 juta Ha atau turun 0,7% dibanding 2018. Pengurangan luas hutan terjadi di seluruh pulau besar Indonesia, dengan kehilangan terbesar di Kalimantan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), luas hutan berkurang karena berbagai faktor, yaitu peristiwa alam, penebangan hutan, dan reklasifikasi area hutan menjadi non-hutan.
Singky Soewadji juga menyayangkan langkah taktis pemerintah dalam upaya penyelamatan hutan secara hakiki, terutama di akhir masa jabatan Presiden Jokowi dengan mega proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan.
"Selama hampir sepuluh tahun Jokowi memimpin negeri ini, kami tidak melihat langkah taktis Jokowi dalam upaya penyelamatan hutan secara hakiki. Justru diakhir masa jabatannya, Jokowi membuat mega proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan," terangnya.
Baca juga:
Fakta Pahit Dibalik Kematian Gajah Sumatera
Singky juga menyoroti kerusakan hutan yang terus terjadi akibat perambahan, eksploitasi menjadi kebun sawit, dan penambangan. Ia menilai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) era Presiden Jokowi telah gagal menjaga dan mengfungsikan hutan, serta melestarikan satwa liar yang dilindungi.
"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) era Presiden Jokowi telah gagal. Gagal menjaga dan mengfungsikan hutan. Gagal melestarikan Satwa Liar yang dilindungi," tegas Singky.
Untuk itu, Singky Soewadji mengajak para rimbawan dan sahabat lestari untuk terus bersuara dan memperjuangkan kelestarian hutan Indonesia.
Baca juga:
Antisipasi Teror Ular Masuk Rumah, BPBD Kota Madiun Lakukan Ini
"Para Rimbawan dan Sahabat Lestari harus tetap bersuara, karena: 'Orang Pandai Diam, Orang Bodoh akan Semena-mena, Orang Baik Diam, Orang Jahat Akan Makin Berkuasa'," serunya.
Ia juga mengungkap pentingnya memisahkan kembali Departemen Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan, serta menempatkan sosok yang berani, jujur, dan bijaksana untuk memimpin kedua departemen tersebut.
"Semua izin pemanfaatan hutan harus dievaluasi kembali, kita butuh sosok berani, jujur dan bijaksana memimpin dua departemen ini," pungkasnya