Pixel Code jatimnow.com

Kurangi Nyampah, DKV ISTTS Gaungkan Desain Berkelanjutan

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Mahasiswa DKV ISTTS menampilkan busana hasil proyek upcycle fashion dalam gelaran DAYKAVE 6.0 di Auditorium ISTTS Surabaya, Selasa (02/12/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Mahasiswa DKV ISTTS menampilkan busana hasil proyek upcycle fashion dalam gelaran DAYKAVE 6.0 di Auditorium ISTTS Surabaya, Selasa (02/12/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) gaungkan desain berkelanjutan lewat pameran tahunan DAYKAVE 6.0.

Mengusung tema “Duality”, acara yang digelar pada 1–2 Desember 2025 di Auditorium ISTTS ini menjadi ajang apresiasi karya mahasiswa lintas angkatan dengan menampilkan beragam kreasi, mulai dari Upcycle Fashion, karya monumental, hingga ilustrasi dan instalasi visual.

Dosen DKV ISTTS, Bonifacia Bulan Aruming Tyas, menuturkan bahwa DAYKAVE telah menjadi agenda tradisi yang diselenggarakan setiap akhir tahun akademik.

“DAYKAVE sudah berjalan enam tahun. Ini wadah mahasiswa untuk menunjukkan hasil belajar mereka dari berbagai mata kuliah, bukan hanya kelas yang saya ampu saja,” ujarnya.

Tema “Duality” dipilih untuk menantang mahasiswa memadukan unsur kontras dalam satu karya visual. “Kami ingin mahasiswa memahami dua sisi dalam desain warna gelap dan terang, suasana lembut dan tegas yang bisa hidup berdampingan dalam satu karya,” jelas Boni.

Pendekatan ini, menurutnya, melatih mahasiswa mengelola kompleksitas visual sekaligus mempertajam kemampuan eksplorasi estetika.

Tahun ini, DAYKAVE menampilkan warna baru melalui kehadiran mata kuliah Sustainable Design. Mahasiswa diajak mengkritisi dampak industri desain terhadap produksi sampah, mulai dari banner sekali pakai hingga kemasan produk.

“Kita sebagai desainer itu sebenarnya penyumbang limbah. Karena itu penting sekali mahasiswa memahami kesadaran ekologis sejak dini,” ungkap Boni, dosen pengampu mata kuliah Sustainable Design, Rupa Dasar, dan Pemasaran Terpadu Aplikatif ISTTS ini.

Untuk itu, salah satu proyek unggulan dalam mata kuliah ini adalah Upcycle Fashion. Mahasiswa ditantang untuk mengubah pakaian bekas menjadi kreasi busana baru dengan sentuhan desain inovatif. Mahasiswa juga dituntut untuk menghitung biaya produksi secara detail.

“Semakin sedikit biaya yang dikeluarkan, semakin baik. Itu artinya mereka bisa memanfaatkan kembali bahan yang sudah ada. Ada beberapa kelompok yang bahkan mencapai biaya nol rupiah,” ujarnya.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah blazer dengan dekorasi motif kotak-kotak hasil kombinasi pakaian lama milik anggota kelompok.

“Mereka memanfaatkan gaya pribadi teman satu tim dan menjadikannya karakter desain baru. Itulah esensi upcycle: mengolah sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang bernilai kembali,” tambah Boni.

Selain fashion, mahasiswa semester 1 turut memamerkan Karya Monumental hasil proyek mata kuliah Rupa Dasar. Mereka diminta memakai sisa-sisa bahan tugas sebelumnya untuk menanamkan kebiasaan minim limbah.

“Sejak awal saya tekankan, kumpulkan semua sisa bahan karena nanti akan dipakai lagi. Tidak saya wajibkan biaya nol, tapi saya dorong agar mereka mulai terbiasa berpikir sustainable,” katanya.

Pengerjaan karya monumental dilakukan secara berkelompok selama sekitar satu hingga satu setengah bulan setelah UTS.

DAYKAVE 6.0 juga menyediakan barter market. Pengunjung bisa menukarkan tiga barang layak pakai yang sudah tidak digunakan dengan barang lain. Fasilitas ini didesain untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Terkait kritik publik terhadap limbah kemasan produk, Boni menilai bahwa perubahan tidak selalu bergantung pada desain. Ia bilang, tidak semua kemasan bisa diubah menjadi lebih ramah lingkungan, karena ada produk yang membutuhkan perlindungan.

"Solusinya kembali ke perilaku kita. Bawa tumbler sendiri, kurangi plastik sekali pakai, biasakan makan dengan tempat bekal sendiri," tuturnya.

Disinggung mengenai relevansi jurusan DKV di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), Boni mengakui bahwa tantangan AI memang cukup berat. Akan tetapi, menurutnya dasar dalam merancang desain tetap tidak tergantikan.

"Mesin bisa membantu eksekusi, tetapi manusia yang mengkurasi apakah hasilnya realistis atau tidak," tegasnya.

ISTTS Surabaya sendiri, lanjutnya, telah memasukkan topik AI dalam kurikulum, seperti dalam mata kuliah Generative Art. Namun, Boni menegaskan bahwa AI bukan lawan, melainkan mitra.

“Kita tidak bermusuhan dengan AI. Kita berjalan berdampingan. Mesin bekerja, manusia mengarahkan,” tandasnya.