Pixel Code jatimnow.com

Siklon Tropis Mengintai, Pakar ITS Ingatkan Kesiapsiagaan Warga

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Amien Widodo, peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)
Amien Widodo, peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)

jatimnow.com - Meningkatnya ancaman siklon tropis di Samudera Hindia menjadi perhatian serius pakar mitigasi kebencanaan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pakar ITS, Amien Widodo, menegaskan pentingnya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologis.

Peringatan dini dari BMKG terkait Siklon Seniyar yang memicu banjir bandang dan longsor di Sumatera seharusnya menjadi pelajaran berharga. Tragedi tersebut menelan 836 korban jiwa, 518 orang hilang, dan merusak lebih dari 10.500 rumah.

"Curah hujan ekstrem yang dibawa Siklon Seniyar berinteraksi dengan kondisi topografi bergunung-gunung serta kerusakan hutan yang telah berlangsung puluhan tahun. Akibatnya, tanah menjadi tidak stabil dan banjir bandang membawa lumpur, batu, serta kayu gelondongan dengan daya rusak yang sangat besar," jelas Amien, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS.

Amien juga mengingatkan tentang kemunculan bibit siklon tropis baru di selatan Pulau Jawa yang berpotensi memengaruhi wilayah Jawa–Bali–NTT hingga Timika, Papua. Peringatan ini harus segera direspons dengan langkah mitigasi nyata.

Amien menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah atau lembaga penolong. Pemberdayaan masyarakat menjadi faktor penentu keselamatan.

Ia merujuk hasil survei korban Gempa Kobe, Jepang (1995), yang menunjukkan bahwa 67 persen keselamatan bergantung pada kemampuan diri sendiri dan keluarga.

Baca juga:
Atasi Defisit BPJS, Mahasiswa ITS Integrasikan Gym ke Mobile JKN

"Semua anggota keluarga termasuk lansia, balita, dan penyandang disabilitas harus memahami ancaman yang ada di sekitar mereka," tegasnya.

Amien menambahkan bahwa ketika terjadi bencana besar, tak jarang ada desa yang akhirnya terisolasi.

"Apabila masyarakat telah diberdayakan dan dibekali pengetahuan serta persediaan yang benar, mereka akan tetap dapat bertahan hidup tanpa harus menunggu bantuan eksternal," ujarnya.

Baca juga:
Cukup Rekam Batuk, Alat Buatan ITS Ini Bisa Skrining Gejala TBC

Ia menuturkan perlunya sinergi antara pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta. Ketangguhan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan dibangun melalui edukasi, latihan, dan kolaborasi.

"Jika setiap keluarga dan setiap kampung sadar ancaman, maka 95 persen dari mereka akan selamat," pungkasnya.

ITS berkomitmen mendukung upaya mitigasi bencana dan pembangunan berkelanjutan melalui riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat.