Pixel Code jatimnow.com

Ubah Stigma Jalanan, Rumah Literasi Digital Cetak 'Gengster' Pencari Rupiah di TikTok

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Lokakarya perdana mengenai Seller dan Affiliate TikTok yang diikuti belasan warga di Rumah Literasi Digital (RLD). (Foto: RLD/jatimnow.com)
Lokakarya perdana mengenai Seller dan Affiliate TikTok yang diikuti belasan warga di Rumah Literasi Digital (RLD). (Foto: RLD/jatimnow.com)

jatimnow.com – Kata "gengster" di Surabaya kini tak lagi identik dengan kekerasan jalanan atau tawuran.

Rumah Literasi Digital (RLD) justru meminjam istilah garang tersebut untuk melabeli gerakan pemberdayaan ekonomi baru bertajuk Kampung Gengster Digital.

Di sini, "nyali" warga bukan diuji lewat adu fisik, melainkan keberanian tampil di depan kamera untuk meraup pendapatan lewat jalur digital.

Program ini resmi diluncurkan dengan lokakarya perdana mengenai Seller dan Affiliate TikTok yang diikuti belasan warga. RLD mendefinisikan ulang "gengster" menjadi simbol solidaritas, sebuah kekompakan warga kampung untuk saling angkat derajat ekonomi di tengah kerasnya persaingan era internet.

Antusiasme warga kampung untuk menjadi kreator konten ternyata cukup besar, namun sering kali terbentur tembok tebal bernama modal.

Hal ini terungkap saat sesi materi yang dibawakan oleh praktisi digital, Makin dan Isnan.

Mereka menemukan fakta bahwa banyak warga ingin memulai usaha afiliasi, namun mundur teratur karena tidak memiliki peralatan memadai.

"Banyak yang sebenarnya ingin mulai, tapi langsung menyerah karena terkendala alat. Makanya, semangat saling bantu dan saling angkat ini penting supaya kita bisa tumbuh bareng," ungkap Makin.

Merespons kendala nyata tersebut, RLD tidak hanya memberikan teori. Mereka menerapkan solusi taktis dengan menyediakan inventaris "alat tempur" konten yang bisa dipinjam.

Mulai dari tripod, mikrofon nirkabel (wireless), hingga alat putar produk (turntable) disiapkan untuk memfasilitasi warga.

Baca juga:
Foto: Haul Dua Tahun Rizal Ramli

Tak berhenti pada alat, strategi "patungan" khas kampung juga diterapkan untuk mengatasi masalah sampel produk.

Peserta diajarkan sistem gotong royong, mereka membeli sampel produk yang berbeda-beda, lalu saling tukar-pinjam untuk bahan pembuatan video.

Cara ini memungkinkan satu orang kreator memiliki variasi konten produk yang beragam tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk membeli semuanya sendiri.

Inilah esensi "gengster" yang dimaksud RLD: kolaborasi erat untuk bertahan dan menang bersama.

Selain strategi jualan, warga juga dibekali kemampuan teknis seperti pembuatan video berbasis kecerdasan buatan (AI).

Baca juga:
Indosat Bekali UMKM Pasuruan Strategi Konten Viral dan Optimasi Produk

Tujuannya agar konten yang diproduksi dari kampung tetap relevan dan mampu bersaing dengan kreator profesional.

Gerakan ini tidak berhenti di satu titik. RLD menargetkan ekspansi program Kampung Gengster Digital secara masif mulai Januari 2026.

Fokus utamanya adalah kampung-kampung yang warganya benar-benar membutuhkan pendampingan ekonomi digital.

RLD kini membuka pendaftaran untuk 12 titik kampung prioritas yang tersebar di wilayah Surabaya Utara, Timur, Barat, Selatan, dan Pusat.

Bagi pengurus kampung atau komunitas yang ingin wilayahnya disulap menjadi markas digital produktif, kesempatan bergabung kini terbuka lebar melalui saluran resmi Instagram Rumah Literasi Digital.