jatimnow.com - Baterai ponselnya sering copot sendiri jika tersenggol sedikit saja. Layarnya pun tak menampilkan wajah, hanya sorotan produk diiringi musik latar seadanya.
Namun, keterbatasan teknis yang nyaris fatal itu tak menghalangi Deni mencetak penjualan perdana (pecah telur) di TikTok Shop, Minggu (14/12/2025).
Keberhasilan Deni menjadi anomali menarik di tengah anggapan bahwa menjadi kreator konten butuh perangkat canggih.
Pria ini merupakan salah satu peserta program pemberdayaan Kampung Gengster Digital yang baru saja menyelesaikan pelatihan intensif dua hari sebelumnya.
Tanpa studio mewah atau lampu sorot mahal, Deni membuktikan bahwa eksekusi jauh lebih penting daripada kesempurnaan alat.
Kabar keberhasilan ini langsung memicu kehebohan di grup WhatsApp komunitas tersebut. Sebuah tangkapan layar Gross Merchandise Value (GMV) yang ia kirimkan menjadi bukti sah: ada penonton yang membeli lewat tautan affiliate miliknya.
Deni tidak sedang bermain-main dengan nasib. Sesi live streaming yang ia lakukan pada Minggu sore itu benar-benar jauh dari standar ideal para 'guru' marketing. Ia hanya bermodal nekat mempraktikkan ilmu dari Workshop Seller & Affiliate yang digelar Rumah Literasi Digital (RLD), pada Jumat (12/12/2025) lalu.
Saat dihubungi, Deni mengakui kondisi perangkatnya memang memprihatinkan. “Saya live tanpa menampilkan wajah, hanya gambar produk dan musik biasa. Perangkat sangat minim, pakai HP yang baterainya cepat habis, bahkan sering copot sendiri. Durasinya pun sebentar,” ungkap Deni.
Menariknya, akun TikTok yang ia gunakan sebenarnya adalah akun gaming dengan basis pengikut mayoritas warga negara asing.
Baca juga:
Foto: Haul Dua Tahun Rizal Ramli
Secara logika algoritma, menjual produk lokal di akun seperti ini adalah misi mustahil. Namun, fakta berkata lain, pembeli lokal tetap nyangkut dan transaksi terjadi.
“Aneh dan unik sebenarnya. Follower saya kebanyakan orang luar negeri karena kontennya game. Tapi ternyata bisa ada yang checkout juga,” tambahnya.
Di balik layar ponsel yang retak dan baterai yang longgar, tersimpan cerita perjuangan seorang profesional yang tengah menata ulang hidupnya.
Deni bukanlah orang baru di dunia kerja. Ia menghabiskan sembilan tahun di industri retail global multi-brand, dengan jabatan terakhir sebagai Asisten Supervisor.
Baca juga:
Indosat Bekali UMKM Pasuruan Strategi Konten Viral dan Optimasi Produk
Namun, roda nasib berputar. Sejak berhenti bekerja pada 2023, ia terus mencari peluang baru untuk kembali berdaya secara ekonomi.
Pertemuannya dengan program Kampung Gengster Digital menjadi titik balik. Di sini, ia tidak hanya belajar teori closing atau branding, tetapi menemukan keberanian untuk memulai kembali dari nol, bahkan dengan fasilitas minus.
Keberhasilan Deni yang "pecah telur" dalam tempo 48 jam pasca-pelatihan mengirimkan pesan kuat: ekonomi digital cukup inklusif bagi siapa saja yang berani memulai, tanpa harus menunggu perangkat sempurna.
Kini, grup alumni pelatihan tersebut tak lagi sepi, riuh rendah ucapan selamat dan motivasi dari peserta lain menandai bangkitnya semangat baru di komunitas tersebut.