jatimnow.com - Aqsa mungkin tidak bisa mendengar riuh rendah Kota Surabaya, namun matanya menangkap detail yang kerap luput dari pandangan orang biasa.
Melalui bidikan kameranya, remaja tuna rungu-wicara ini "berteriak" lantang, membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah sekat imajiner yang bisa diruntuhkan oleh karya.
Aqsa adalah satu dari 18 seniman muda yang unjuk gigi dalam pameran bertajuk "Melihat Bersama #SetaraBerkarya" di Pacific Sky Hall, Dafam Pacific Caesar Surabaya, Sabtu (14/12/2025).
Kolaborasi apik antara Disabilitas Berkarya, UPTD Kampung Anak Negeri, dan Matanesia ini bukan sekadar ajang pamer, melainkan pernyataan sikap: mereka ada, berdaya, dan setara.
Menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan dengan penuh emosi, Aqsa menegaskan posisinya. Ia menolak narasi "korban" yang sering disematkan masyarakat pada penyandang disabilitas.
"Saya tidak butuh dikasihani. Saya hanya butuh karya saya dilihat setara dengan fotografer lainnya," ungkap Aqsa. Foto-fotonya berbicara jujur, menangkap rasa, dan memaksa pengunjung menyelami perspektif sunyi yang ia rasakan setiap hari.
Pameran ini menawarkan kritik tajam terhadap konsep amal yang seringkali menempatkan penyandang disabilitas sebagai objek pasif.
General Manager Dafam Pacific Caesar Surabaya, Hogi Budiarto, menilai pola pikir masyarakat perlu diubah total. Memberi ruang apresiasi jauh lebih bermartabat ketimbang sekadar memberi bantuan karitatif.
"Anak-anak ini tidak butuh bantuan semata, mereka butuh panggung untuk menunjukkan kemampuan," tegasnya.
Bagi Hogi Budiarto, kehadiran karya mereka di ruang publik profesional seperti hotel berbintang adalah langkah konkret merawat inklusivitas.
Baca juga:
Mobil Terjun ke Sungai di Mulyorejo, Tim Rescue Damkar Surabaya Lakukan Evakuasi
"Kami tidak ingin mereka tampil sebagai objek. Mereka harus hadir sebagai subjek yang berdaya. Karya mereka adalah tamparan bagi kita untuk memahami ulang apa arti kata 'mampu'," tambahnya.

Atmosfer di Pacific Sky Hall berubah haru ketika Sophie, peserta lain dengan disabilitas, mengambil alih panggung. Dengan Bahasa Inggris yang fasih, ia mematahkan stigma bahwa keterbatasan fisik menghambat intelektualitas.
Momen puncak terjadi saat Sophie mempersembahkan sebuah foto potret ibundanya. Karya itu ia dedikasikan sebagai kado menyambut Hari Ibu.
"Dunia baru benar-benar adil ketika setiap suara, baik yang lantang maupun pelan, mendapat ruang untuk didengar. Kesempatan seperti ini harus terus ada," tutur Sophie, disambut tepuk tangan hangat ratusan pengunjung.
Baca juga:
Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Tak hanya visual, pameran ini juga memanjakan telinga. Krisna, Willy, dan Rafly, tiga musisi tuna netra memainkan instrumen dengan penjiwaan mendalam, membuktikan bahwa musik tidak butuh mata untuk bisa menyentuh hati.
Di sudut lain, Kiking dan Pina melakukan aksi live painting, menorehkan warna-warni kehidupan di atas kanvas dalam keheningan dunia mereka.
Pameran #SetaraBerkarya di Surabaya ini menjadi pengingat keras, berhentilah melihat apa yang kurang dari mereka, dan mulailah melihat apa yang bisa mereka ciptakan.
URL : https://jatimnow.com/baca-81154-kritik-menohok-pameran-disabilitas-kami-butuh-panggung-bukan-kasihan