jatimnow.com - Kain tenun tradisional dari Dusun Penggaron, Jombang, Jawa Timur, tak lagi hanya berujung di lemari pakaian atau menjadi sarung.
Melalui terobosan cemerlang, para seniman tenun di wilayah ini berhasil mentransformasi warisan budaya mereka menjadi produk interior modern yang sangat dicari, Window Blind atau tirai jendela.
Inovasi ini membuka babak baru bagi puluhan pekerja seni lokal, yang mayoritas adalah orang tua tunggal (single parent). Mereka kini siap memasuki segmen pasar dekorasi rumah tangga bernilai jual tinggi.
Peresmian sentra produksi baru ini, yang diresmikan di Dusun Penggaron pada Senin (15/12/2025), menjadi penanda revitalisasi POKMAS Tenun Wastra Sejahtera.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi tim Interior Design Petra Christian University, Surabaya, yang didanai melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kemendikbudristek RI.
Sebelumnya, produk yang dihasilkan kelompok penenun yang berdiri sejak 2019 ini hanya terbatas pada tekstil fesyen dengan sistem pemasaran konvensional. Keterbatasan ini yang dilihat oleh tim dosen sebagai tantangan sekaligus peluang.
Ketua Tim Peneliti dari Petra Christian University, Sherly de Yong, menjelaskan bahwa ide utama proyek ini adalah menciptakan produk di luar kebiasaan.
“Kami menggunakan pendekatan kolaboratif Co-Design yang melibatkan penenun, pengrajin, seniman, hingga akademisi. Tujuannya agar tercipta produk yang benar-benar baru. Jika dulunya hanya fashion, kini mereka mampu memproduksi tirai tenun (produk interior) dengan motif seni kontemporer yang segar dan unik,” kata Sherly.
Proses transformasi ini memadukan benang tenun dengan lidi bambu, menghasilkan material yang lurus, kaku, dan semi transparan sangat ideal untuk Window Blind, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi wall hanging dan taplak.
Baca juga:
UK Petra Pertahankan Gelar PTS Kristen Terbaik di Indonesia Versi QS AUR 2026
Meskipun menjanjikan perluasan pasar yang signifikan, proses produksi tirai tenun ini membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran ekstra.
Anggota tim, Lintu Tulistyantoro, menjelaskan bahwa produk ini bersifat kustomisasi (custom), memungkinkan pembeli memesan sesuai selera. Namun, pengerjaannya tidak bisa cepat.
Proses produksi satu unit tirai tenun ini menuntut serangkaian tahapan yang panjang dan teliti. Dimulai dari Persiapan Bahan berupa pembuatan lidi bambu mentah, dilanjutkan dengan Penggambaran Motif yang disebut sebagai proses paling sulit karena menuntut ketelitian tinggi, hingga akhirnya sampai pada tahap Penenunan, di mana rata-rata seniman tenun hanya mampu merangkai 7 hingga 10 buah window blind per hari.
Sherly menambahkan, kesulitan juga terletak pada bahan baku. “Bambu yang digunakan harus halus dan kaku agar mempermudah proses memasukkan ke dalam tenunan. Diperlukan kejelian dan kesabaran tinggi dari penenun,” tambahnya.
Baca juga:
Impor Solar Disetop 2026, Siapkah Indonesia? Ini Kata Ekonom
Peresmian Pokmas ditandai dengan serah terima alat modifikasi, termasuk alat tenun, alat serut bambu, dan sisir tenun. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jombang turut hadir meresmikan dan menyaksikan demonstrasi langsung proses produksi di lokasi.
Saat ini, window blind yang dihasilkan dibanderol mulai dari Rp150.000 untuk ukuran 45 x 90 cm. Sherly de Yong yakin inovasi ini akan menjadi jembatan yang kuat antara tradisi lokal dengan kebutuhan pasar interior modern.
Diversifikasi ini diharapkan mampu mendongkrak ekonomi para seniman tenun Jombang, sekaligus menawarkan solusi dekorasi yang unik, alami, dan berkesan etnik untuk rumah-rumah di Indonesia.
URL : https://jatimnow.com/baca-81167-revitalisasi-tenun-jombang-dongkrak-ekonomi-pekerja-seni-lokal