Pixel Code jatimnow.com

Detik-detik Diskusi HAM GMNI Surabaya Dibubarkan Paksa Kelompok Intimidatif

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Diskusi HAM GMNI Surabaya di Wisma Marinda dibubarkan paksa oknum mahasiswa bergaya preman. (Foto/WAG)
Diskusi HAM GMNI Surabaya di Wisma Marinda dibubarkan paksa oknum mahasiswa bergaya preman. (Foto/WAG)

jatimnow.com - Malam yang seharusnya menjadi ruang tukar pikiran di Wisma Marinda Surabaya mendadak mencekam. Kegiatan diskusi Hak Asasi Manusia (HAM) yang digelar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya dibubarkan paksa oleh sekelompok oknum mahasiswa yang bertindak layaknya preman, Selasa (16/12/2025).

Aksi intimidasi ini memicu gelombang kekecewaan di kalangan aktivis Surabaya. Ruang intelektual yang semestinya menjadi tempat aman untuk berdialektika justru dicederai oleh kekerasan fisik dan teriakan provokatif.

Hingga berita ini diturunkan, GMNI Surabaya menyatakan keberatan atas serangan terhadap tradisi demokrasi mereka.

Berdasarkan keterangan kronologi dari pengurus cabang, massa tiba-tiba merangsek masuk saat diskusi sedang hangat berlangsung.

Kelompok penyerang yang diduga juga berstatus mahasiswa ini datang dengan teriakan intimidatif. Suasana diskusi HAM yang awalnya kondusif berubah jadi ajang tekanan mental bagi peserta.

Langkah intimidasi tersebut memaksa panitia menghentikan agenda sebelum tuntas. Tindakan ini dianggap sebagai preseden buruk bagi kebebasan berpendapat di lingkungan kampus dan organisasi mahasiswa Surabaya.

Baca juga:
GMNI Surabaya Desak Investigasi Independen Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng

Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, bersuara lantang menanggapi insiden memilukan tersebut. Ia mengutuk keras perilaku yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan semangat Marhaenisme itu.

"Kami sangat menyesalkan tindakan premanisme yang membubarkan diskusi HAM ini. Diskusi adalah ruang intelektual dan dialektika yang seharusnya dijaga bersama sebagai komitmen kita sebagai aktivis pergerakan," tegas Ni Kadek Ayu Wardani.

Kadek menilai, serangan ini merupakan serangan terhadap nilai dasar demokrasi. Menurutnya, dinamika dalam sebuah organisasi mahasiswa seharusnya berujung pada meja dialog, bukan otot-ototan di lapangan yang mencederai konstitusi organisasi.

Baca juga:
GMNI Surabaya: Jangan Benturkan Suku Madura dalam Kasus Nenek Elina

GMNI Surabaya Raya tidak akan tinggal diam melihat aksi pembungkaman ini. Mereka mendesak semua pihak untuk kembali ke garis perjuangan yang sehat tanpa kekerasan. Ruang intelektual mahasiswa harus tetap hidup meski ada perbedaan pandangan di dalamnya.

"Ke depan, perbedaan sekecil apa pun harus tuntas lewat dialog sehat. Marhaenisme harus dijaga dari tindakan yang justru mencoreng nama baik organisasi," tambah Kadek.

Saat ini, DPC GMNI Surabaya Raya tengah mengkaji langkah-langkah organisasi dan mempertimbangkan pelaporan hukum terkait dugaan intimidasi dan perbuatan tidak menyenangkan tersebut.