Pixel Code jatimnow.com

Bupati Trenggalek Beberkan Gagasan Pengurangan Emisi dan Keuangan Inklusi

Editor : Bramanta  
Foto: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat melaunching program sangu sampah. (Prokopim Trenggalek/jatimnow.com)
Foto: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat melaunching program sangu sampah. (Prokopim Trenggalek/jatimnow.com)

jatimnow.com-Pemkab Trenggalek melaunching program sangu sampah untuk pelajar sekolah dan pondok pesantren. Program ini bertujuan untuk menggabungkan edukasi lingkungan dan inklusi keuangan bagi pelajar.

Program ini dilaunching oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin bersama Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut Kementerian Lingkungan Hidup, Edy Nugroho Santoso di Kantor Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Trenggalek.

"Program inovasi sangu sampah merupakan langkah konkret untuk menuju target Trenggalek Net Zero Carbon 2045," ujar Mas Ipin, Jumat (19/12/2025).

Gagasan program sangu sampah berawal dari penghitungan emisi karbon di Trenggalek. Dari hasil penghitungan, emisi karbon terbesar berasal dari sektor energi 42 persen, pertanian 40 persen, sampah 16 persen dan sisanya sektor industri.

"Trenggalek masih surplus emisi sekitar 115 ribu ton CO2 ekuivalen. Setara dengan menanam 130 hektare mangrove atau mengatasi 80 persen sampah yang dihasilkan masyarakat," tuturnya.

Mengingat kemampuan fiskal Trenggalek sangat terbatas, pemerintah daerah mencoba untuk mengatasi sektor sampah. Disisi lain, pengolahan sampah juga memerlukan dana besar.

"Sampah dapat memiliki nilai ekonomi jika diolah. Tapi kami tidak memiliki biaya untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah dan belum mampu untuk menggaji petugas dalam jumlah banyak," terangnya.

Baca juga:
Ratusan CJH Trenggalek Belum Lolos Istitha'ah

Maka Mas Ipin memiliki inovasi sangu sampah dengan melibatkan pelajar sekolah dan santri pondok pesantren. Melalui program tersebut, bisa menjadi edukasi peduli lingkungan kepada siswa serta mendapatkan uang saku dari hasil tabungan sampah.

"Program ini akan diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, mulai SD hingga perguruan tinggi. Setiap siswa miliki satu akun rekening, tapi untuk siswa SD dan santri akun rekening akan dikelola oleh guru atau pengurus pondok," paparnya.

Setiap siswa yang mengumpulkan sampah akan mendapatkan poin dalam aplikasi TGX Waste Coin. Nilai ekonomi sampah akan dihitung setiap tiga bulan sekali sebelum dikonversikan menjadi uang saku siswa.

Baca juga:
Tren Penyakit Gagal Ginjal Naik di Trenggalek, Pasien Termuda Usia 15 Tahun

"Uang ini dapat digunakan siswa untuk kepentingan pendidikan mereka. Sehingga bisa membantu ekonomi keluarga dan mampu menjadi agen perubahan menjaga kelestarian lingkungan," jelasnya.

Sementara itu, salah satu siswi SMAN 2 Trenggalek, Humairah Setya menyambut positif program Sangu Sampah. Menurutnya, program ini bisa menumbuhkan peduli lingkungan dan semangat menabung sejak dini.

"Harapannya program ini bisa mengurangi sampah dan emisi. Juga membantu pembiayaan pendidikan melalui tabungan sampah," pungkasnya.