Pixel Code jatimnow.com

Potret Buram Wisata Mangrove Surabaya, Aset Nasional yang Terabaikan

Editor : Ni'am Kurniawan  
Salah satu pengunjung wisata mangrove Surabaya (dok.jatimnow.com)
Salah satu pengunjung wisata mangrove Surabaya (dok.jatimnow.com)

jatimnow.com – Menjelang libur akhir tahun 2025, wisata mangrove Surabaya biasanya menjadi primadona destinasi wisata keluarga. 

Dengan tiga lokasi utama, Kebun Raya Mangrove Surabaya Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah yang diresmikan sebagai Kebun Raya Mangrove Surabaya sejak Juli 2023.

Kawasan seluas 34 hektar ini diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia. 

Namun, di balik itu semua, realitas di lapangan justru menunjukkan pengelolaan yang buram, dan jauh dari kata layak.

Salah satu masalah krusial yang kerap dikeluhkan pengunjung adalah minimnya akses transportasi umum menuju kawasan wisata mangrove. 

"Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar," ungkap Maria, salah seorang pengunjung, Senin (22/12/2025).

Tumpukkan sampah dindekat jogging trekTumpukkan sampah dindekat jogging trek

Penelitian yang dilakukan pada 2020 oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya mengidentifikasi beberapa faktor penghambat pengembangan ekowisata mangrove.

Diantaranya, tak adanya transportasi umum yang terjangkau menuju lokasi, kurangnya koordinasi antar instansi terkait fasilitas dan papan penunjuk lokasi, dan engembangan Lingkungan Sekitar yang Belum Optimal

Lima tahun kemudian, di penghujung 2025, mayoritas masalah ini masih belum terselesaikan. Strategi pengembangan yang disusun tahun 2025 juga masih belum digarap. Mulai dari konsep natural resources, perluasan jogging track, dan sentra wisata kuliner masih jauh dari harapan. Arya juga menyampaikan hal yang sama.

Baca juga:
Gandeng BRIN, Kebun Mangrove Surabaya Jadi Pusat Perpustakaan Bakau Dunia

"Sentra kulinernya hanya tulisannya saja, tadi haus rencananya mau beli minum eh sepi. Hanya tinggal lapak dan meja kursinya saja. Next kalau kesini harus bawa bekal mas, itupun kalau kesini lagi jika seperti ini kondisinya," jelasnya.

Fasilitas yang ada saat ini masih berkutat pada hal-hal mendasar seperti toilet umum, musala sederhana, dan area parkir seadanya.

Spot foto yang terbengkalaiSpot foto yang terbengkalai

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mengatakan, pengelolaan wisata di Surabaya masih terjebak dengan pola lama, yang minim inovasi.

Menurutnya, tekanan fiskal dan berkurangnya dana transfer pusat seharusnya menjadi peringatan bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk lebih serius menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Baca juga:
Aksi Tanam 5 Ribu Bibit Bakau di Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

"Surabaya punya aset wisata, tapi banyak yang dikelola setengah hati. Kita sering bangga saat peresmian, tapi setelah itu pengelolaannya stagnan," ucap Yona, saat dikonfirmasi.

Ia mengingatkan, tanpa inovasi dan keberanian mengambil keputusan strategis, Kebun Raya Mangrove Surabaya berisiko terus menjadi aset tidur, terutama di tengah persaingan destinasi wisata dan kebijakan efisiensi anggaran.

“Momentum libur akhir tahun seharusnya bisa menjadi titik balik. Pertanyaannya tinggal satu: Pemkot mau serius menggarap potensi ini, atau membiarkannya jalan di tempat,” katanya.

"Ini satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia. Seharusnya bisa menjadi magnet nasional kalau dikelola profesional dan dipromosikan dengan benar,” tandasnya.