jatimnow.com - Puluhan pesepeda dari berbagai komunitas di Surabaya mendadak menghentikan kayuhan mereka di depan halaman Balai Kota, Minggu (21/12/2025) pagi.
Bukan untuk beristirahat, para pegiat gowes ini justru berkumpul dalam barisan saf untuk melaksanakan salat ghaib dan doa bersama bagi korban bencana banjir bandang di Aceh serta Sumatra.
Mengenakan pakaian serba hitam, mereka tampak khusyuk menundukkan kepala di samping sepeda masing-masing sejak pukul 06.00 WIB.
Aksi ini menjadi pesan kuat bahwa solidaritas warga Surabaya melintasi batas geografis, merangkul duka saudara-saudara di ujung barat Indonesia yang kehilangan harta benda hingga orang tercinta.
Humas kegiatan, Yan Catur Amboro, mengungkapkan bahwa gerakan spontan ini lahir dari keinginan para pesepeda agar aktivitas mereka memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia ingin mengubah persepsi publik bahwa pesepeda tidak hanya sekadar melintas di jalanan.
"Hari ini kami ingin menunjukkan bahwa pesepeda punya hati. Kami mendoakan saudara-saudara di Aceh dan Sumatra, sekaligus mengetuk pintu hati publik untuk ikut membantu meringankan beban mereka," ujar Yan di sela-sela aksi.
Kegiatan ini tidak berhenti pada urusan religi semata. Di lokasi yang sama, para pesepeda mengumpulkan donasi yang nantinya disalurkan melalui Lembaga Manajemen Infaq (LMI).
Baca juga:
120 Pesepeda di Probolinggo Ikuti Gomal Susuri Rute Persawahan dalam Gelap
Dana tersebut ditujukan untuk pemulihan wilayah terdampak banjir dan tanah longsor yang kini tengah melumpuhkan sebagian wilayah Sumatra dan Aceh.
Komitmen komunitas ini ternyata berjangka panjang. Yan menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan agenda lanjutan yang lebih besar pada awal tahun depan. Program tersebut mencakup pembuatan kaos khusus kemanusiaan yang seluruh keuntungannya akan didonasikan.
"Kami berencana menggelar 'Gowes Kemanusiaan' pada Januari 2026 mendatang. Harapannya, semakin banyak pesepeda dan masyarakat umum yang bisa terlibat dalam aksi nyata ini," tuturnya.
Bagi para peserta, aksi ini memiliki makna personal yang mendalam. Mereka menyadari bahwa bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi para penyintas bencana yang saat ini tengah berjuang di pengungsian tanpa tempat tinggal yang layak.
Baca juga:
Mendadak Race, Cara Unik Loyalis Ganjar-Mahfud Kumpulkan Relawan di Surabaya
Suasana haru sempat menyelimuti halaman Balai Kota saat doa dipanjatkan. Jarak ribuan kilometer antara Surabaya dan lokasi bencana seolah terkikis oleh empati yang sama.
"Kami memang tidak berada langsung di lokasi bencana, tapi kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada doa dan uluran tangan dari kami di Surabaya," ucap Yan dengan nada lirih.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bagi warga kota bahwa kayuhan sepeda bukan lagi soal adu kecepatan atau jarak tempuh, melainkan tentang sejauh mana empati mampu menjangkau mereka yang membutuhkan bantuan.