Pixel Code jatimnow.com

Mengulik Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok Jelang Nataru 2025 di Surabaya

Editor : Ni'am Kurniawan  
Tim BPSDA Surabaya melakukan monitoring di sejumlah pasar tradisional (dok. Pemkot Surabaya for jatimnow.com)
Tim BPSDA Surabaya melakukan monitoring di sejumlah pasar tradisional (dok. Pemkot Surabaya for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Surabaya melakukan monitoring ketersediaan bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Ketua Tim BPSDA Surabaya, Agung Supriyo Wibowo, menyampaikan bahwa hasil pantauan di lapangan menunjukkan harga sejumlah komoditas pangan relatif stabil, bahkan beberapa di antaranya mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.

"Untuk saat ini relatif tidak ada harga yang naik, cabai juga sudah turun. Cabai keriting sekarang Rp60.000 per kilogram, cabai besar Rp35.000 per kilogram. Telur yang sebelumnya sempat naik kini turun dari Rp33.000 menjadi Rp30.000 per kilogram,” ujar Agung, dalam siaran resminya, Rabu (23/12/2025).

Selain cabai dan telur, komoditas daging juga menjadi perhatian tim pengawas. Agung menjelaskan, harga daging sapi masih terjaga stabil, dengan daging sapi kualitas premium berada di kisaran Rp140.000 per kilogram, sedangkan daging non premium berkisar antara Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

Sementara itu, harga daging ayam justru mengalami penurunan sekitar Rp5.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya. 

"Kalau ayam ada penurunan. Dari sebelumnya Rp38.000 per kilogram, sekarang sudah di angka Rp33.000 per kilogram,” tambahnya.

Terkait ketersediaan beras dan minyak goreng, Agung memastikan bahwa stok beras di Surabaya berada dalam kondisi sangat aman. 

Baca juga:
Trafik Data Indosat Tumbuh 20 Persen Saat Nataru

Meski minat masyarakat terhadap beras SPHP saat ini sedikit menurun karena beralih ke beras premium, namun secara keseluruhan cadangan pangan kota tetap mencukupi.

Berdasarkan data indeks kecukupan pangan, Surabaya berada di angka 8,3, yang berarti stok pangan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga delapan bulan ke depan. 

Untuk minyak goreng, khususnya MinyaKita, Agung mengakui adanya tantangan di tingkat distribusi akibat tingginya permintaan masyarakat.

“Kalau beras masih konstan. Untuk MinyaKita karena banyak peminat jadi cepat habis. Setiap pabrik sudah ada jatah, tetapi penyalurannya menyebar ke berbagai daerah. Namun, secara umum pasokan minyak goreng di Surabaya masih aman, hanya peminatnya memang tinggi karena masyarakat lebih memilih MinyaKita,” terangnya.

Baca juga:
Trafik Data Melonjak Double Digit, Indosat Jaga Keandalan Jaringan Selama Tahun Baru

Dalam pengawasan tersebut, Pemkot Surabaya juga melibatkan Polres Pelabuhan Tanjung Perak dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan aspek keamanan pangan. 

Pemeriksaan tidak hanya menyasar harga, tetapi juga izin edar serta kelayakan kemasan produk yang beredar di pasar tradisional maupun toko modern.

"Pengawasan ini penting untuk mencegah peredaran produk kedaluwarsa atau rusak yang dapat merugikan konsumen. Sejauh ini, temuan masih dalam batas wajar, seperti kemasan yang penyok di beberapa toko modern pada minggu sebelumnya,” ungkapnya.