Pixel Code jatimnow.com

Puluhan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Terjadi di Tulungagung Sepanjang 2025

Editor : Bramanta  
Foto: Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) Tulungagung dr Kasil Rohmat. (Bramanta/jatimnow.com)
Foto: Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) Tulungagung dr Kasil Rohmat. (Bramanta/jatimnow.com)

jatimnow.com-Sepanjang tahun 2025 ini terdapat 81 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tulungagung yang dilaporkan ke Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA). Namun tida semua kasus dapat ditangani oleh instansi tersebut. Kekerasan seksual mendominasi kasus kekerasan ini dengan jumlah mencapai 33 kasus.

Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) Tulungagung dr Kasil Rohmat, mengatakan data puluhan kasus kekerasan tersebut terjadi selama periode Januari-November. Dari jumlah kasus yang dilaporkan, terdapat 68 kasus yang dapat ditindaklanjuti.

"Totalnya ada 81 pengaduan, tetapi tidak semuanya di dinas kami. Kasus yang menjadi tupoksi KBPPA ada 68 kasus," ujarnya, Sabtu (27/12/2025).

Dari jumlah itu, 33 di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual, 16 kasus kekerasan fisik, enam kasus penelantaran, satu kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan delapan sisanya adalah bentuk kekerasan lain.

"Penanganannya, kami tidak bekerja sendiri, tapi bekerja sama dengan instansi terkait lain. Misalkan terkait kekerasan seksual pasti melibatkan polisi dan kesehatan," tuturnya.

Baca juga:
BGN Siapkan Sanksi Bagi SPPG yang Belum Kantongi SLHS

Diakui kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tulungagung masih relatif tinggi dan membutuhkan upaya penanggulangan bersama. Pada tahun 2023 jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak sebanyak 93 dan tahun 2024 turun menjadi 74 kasus. Dari hasil pendataan dinas KBPPPA para pelaku kekerasan anak dan perempuan sebagian besar adalah orang terdekat, seperti orang tua dan keluarga. Selain itu juga ditemukan kasus yang melibatkan tetangga hingga tenaga pendidik.

"Jadi mayoritas kasus itu terjadi karena ada relasi kuasa, orang tua dengan anak, orang dewasa dengan anak, guru dengan murid dan sebagainya," jelasnya.

Baca juga:
Dinas Pendidikan Tulungagung Segera Lakukan Pengisian Kursi Kepala Sekolah

Dokter Kasil menambahkan untuk mencegah terjadinya kekerasan anak dan perempuan, par orang tua diharapkan peduli terhadap keseharian anak-anak dan aktif menjalin komunikasi. Ia mengajak setiap persoalan yang melibatkan anak dan perempuan tidak menggunakan kekerasan.

"Kami melakukan sosialisai kampanye, jangan sampai ada kekerasan pada wanita dan anak-anak. Kedua, kalau sudah terjadi kekerasan ada pengaduan kita tangani. Berikutnya adalah trauma healing-nya," pungkasnya.