Pixel Code jatimnow.com

Ning Dini Tagih Gedung Permanen, Anak Sekolah Rakyat Tak Boleh Terus Menumpang

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania. (Foto: Tim Media Center/jatimnow.com)
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania. (Foto: Tim Media Center/jatimnow.com)

jatimnow.com - Secercah harapan baru bagi anak-anak dari keluarga rentan di Jawa Timur mulai tumbuh lewat kehadiran Sekolah Rakyat. Program ini hadir sebagai sandaran utama bagi mereka yang sempat terlempar dari sistem pendidikan akibat himpitan ekonomi ekstrem.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, menegaskan pasang badan untuk memastikan inisiatif ini bukan sekadar proyek seremonial.

Baginya, Sekolah Rakyat adalah instrumen nyata untuk meretas belenggu kemiskinan struktural yang kerap mewaris dari generasi ke generasi.

Politisi Partai NasDem ini memantau langsung denyut aktivitas di empat Sekolah Rakyat yang tersebar di Jawa Timur.

Sosok yang akrab disapa Ning Dini itu menilai bahwa kehadiran sekolah ini sangat krusial karena merangkul kelompok yang selama ini benar-benar luput dari radar pendidikan formal.

Meski membawa misi besar, operasional Sekolah Rakyat masih bergelut dengan keterbatasan fasilitas.

Saat ini, para siswa harus rela berbagi ruang dengan menumpang di Balai Latihan Kerja (BLK) hingga Rumah Susun Sewa (Rusunawa) sambil menanti gedung permanen berdiri.

"Sekolah ini tumpuan besar bagi anak-anak yang sebelumnya putus sekolah. Saya mendengar langsung keresahan sekaligus harapan dari guru, siswa, hingga orang tua," ujarnya, Kamis (25/12/2025).

Baca juga:
Mas Dhito Pimpin Rakor Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat di Kediri

Walau fasilitas masih bersifat sementara, Ning Dini mengapresiasi kondisi sarana yang ada karena masih layak menunjang belajar harian. Namun, ia memberi catatan keras agar pembangunan gedung permanen segera dikebut demi menciptakan ekosistem belajar yang lebih stabil.

Masuk ke dalam ruang kelas, tantangan yang dihadapi para pengajar ternyata jauh lebih kompleks. Keberagaman usia dan kemampuan akademik siswa di Sekolah Rakyat sangat mencolok.

Fenomena siswa SMA yang sudah menginjak usia 20 tahun menjadi pemandangan lumrah akibat riwayat putus sekolah yang menahun.

Kenyataan pahit lainnya, ditemukan sejumlah siswa jenjang SD yang masih terbata-bata membaca dan menulis. Situasi unik ini memaksa para guru untuk memutar otak dengan metode pembelajaran yang jauh lebih adaptif dibanding sekolah reguler.

Baca juga:
Kembangkan Sekolah Keluarga Prasejahtera, Pemkab Gresik Visitasi ke SRT 45 Semarang

"Beban guru dan wali asuh di sini berlipat ganda. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga memulihkan mental dan rasa percaya diri anak-anak yang memiliki latar belakang hidup sulit," tutur alumnus Universitas Airlangga tersebut.

Sebagai sekolah berbasis asrama, tiap 10 siswa didampingi oleh satu wali asuh. Dini mengingatkan agar pola pengasuhan dilakukan dengan pendekatan yang sensitif guna menghindari gesekan antar-siswa yang berbeda jenjang usia.

Dini juga menggarisbawahi bahwa fasilitas lengkap dari Kementerian Sosial, mulai dari seragam hingga gawai harus dibarengi dengan pendidikan karakter. Ia tidak ingin bantuan negara justru memanjakan siswa tanpa membentuk kemandirian.

"Sekolah Rakyat harus jadi ruang penempaan karakter. Tujuan akhirnya bukan sekadar ijazah, tapi agar mereka mandiri dan punya kekuatan untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka," tegas Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif itu.