Pixel Code jatimnow.com

Malam Tahun Baru di Surabaya Dirayakan Sederhana dengan Doa Lintas Agama

Editor : Yanuar D  
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. (Foto: Pemkot Surabaya/jatimnow.com)
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. (Foto: Pemkot Surabaya/jatimnow.com)

jatimnow.com – Pemerintah Kota Surabaya akan menggelar doa bersama lintas agama di Balai Kota Surabaya pada malam pergantian Tahun Baru 2026. Perayaan tahun baru di Kota Pahlawan tahun ini dikemas secara sederhana dan penuh makna sebagai wujud empati terhadap para korban bencana alam di Sumatera dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, doa lintas agama menjadi momentum kebersamaan seluruh elemen masyarakat Surabaya yang terdiri dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu.

“Sejak lama saya sampaikan, di Surabaya pada malam tahun baru kita awali dengan doa lintas agama. Kita berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing. Setelah itu, silakan ada kegiatan lain, tetapi tidak berlebihan,” ujar Eri, Minggu (28/12/2025).

Menurut Eri, doa lintas agama tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ruang refleksi bagi warga Surabaya untuk melakukan introspeksi diri seiring bertambahnya usia.

“Introspeksilah di malam tahun baru. Setiap pergantian tahun, usia kita juga bertambah. Sudah sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Sebagai bentuk empati terhadap korban bencana, Pemkot Surabaya juga melarang penggunaan kembang api dalam perayaan malam tahun baru. Kebijakan tersebut diambil agar euforia pergantian tahun tidak dilakukan secara berlebihan.

“Kita ingin punya rasa empati. Saudara-saudara kita ada yang masih dalam kondisi sulit setelah bencana. Karena itu, kami melarang kembang api,” tegasnya.

Baca juga:
69 Pejabat Pemkot Surabaya di Rotasi, 6 Diantaranya Kepala Dinas

Selain kembang api, Pemkot Surabaya juga menegaskan pelarangan penggunaan knalpot brong demi menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat selama malam pergantian tahun.

Terkait penegakan aturan, Eri menilai sanksi sosial lebih efektif dibandingkan sanksi hukum. Menurutnya, kesadaran kolektif masyarakat akan menjadi pengingat yang kuat bagi para pelanggar.

"Kalau masih ada yang menyalakan kembang api lalu viral, sanksi sosial itu jauh lebih berat. Masyarakat akan menilai sendiri,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Eri juga mengapresiasi tingginya solidaritas warga Surabaya terhadap korban bencana. Selama dua pekan terakhir, donasi kemanusiaan yang berhasil dihimpun mencapai Rp8,9 miliar dalam bentuk uang tunai dan Rp1,2 miliar dalam bentuk barang, dengan total bantuan mendekati Rp10 miliar.

Baca juga:
Pemkot Surabaya Buka Beasiswa Penghafal Kitab Suci untuk 1.412 Pelajar

“Ini menunjukkan kepedulian warga Surabaya sangat luar biasa. Karena itu, mari kita awali malam tahun baru dengan doa agar Surabaya dijauhkan dari bencana dan kita semua diberi keselamatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, empati, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kepedulian terhadap sesama merupakan fondasi utama dalam membangun kota yang beradab dan berperikemanusiaan.

“Mari kita mulai tahun baru dengan hati nurani, empati, dan doa untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” pungkas Eri.