jatimnow.com - Wajah pesisir Mempawah kini berubah drastis. Di sana, Terminal Kijing berdiri tegak sebagai simbol kebangkitan ekonomi Kalimantan Barat.
Sejak resmi dikelola PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) pada Agustus 2022, pelabuhan ini bukan lagi sekadar proyek infrastruktur, melainkan mesin utama yang menggerakkan arus ekspor-impor dari jantung Kalimantan ke pasar internasional.
Hingga November 2025, Terminal Kijing mencatatkan performa luar biasa. Arus barang atau throughput melonjak tajam menyentuh angka 3,59 juta ton.
Capaian ini melampaui total performa tahun 2024 yang berada di angka 2,75 juta ton, sekaligus mendekati target ambisius 4 juta ton pada akhir tahun ini.
Hilirisasi yang Berdenyut di Dermaga Lonjakan ini didorong oleh komoditas curah kering yang tumbuh masif hingga 342 persen dibanding tahun lalu.
Di balik angka tersebut, ada peran strategis Terminal Kijing dalam mengawal proyek hilirisasi pemerintah. Produk-produk milik Mining Industry Indonesia (MIND ID) Group, melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), mulai mengalir rutin melalui pelabuhan ini.
Bauksit, batu bara, hingga aluminium hidroksida kini memiliki pintu keluar-masuk yang lebih efisien. Dengan kedalaman kolam mencapai -15 meter LWS dan dermaga sepanjang 1.900 meter, Terminal Kijing mampu melayani 15 kapal besar sekaligus, termasuk kapal kelas raksasa berkapasitas 100.000 DWT.
"Kami memposisikan Terminal Kijing sebagai motor penggerak ekspor-impor kawasan sekaligus katalisator pertumbuhan nasional," ujar Dwi Rahmad Toto S, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PTP Nonpetikemas.
Menurutnya, pelabuhan ini disiapkan untuk melayani berbagai jenis kargo guna memperkuat rantai pasok di wilayah barat Indonesia.
Baca juga:
Ansor Karanggeneng Cetak Petani Militan, Lawan Krisis Pangan dari Desa
Urat Nadi Sawit Kalimantan Sebagai provinsi dengan jumlah perusahaan industri CPO mencapai 132 unit, Kalimantan Barat membutuhkan gerbang yang mumpuni.
Kijing hadir mengisi celah tersebut. Fasilitas modern seperti conveyor bergerak, flexible hose, hingga stasiun pengisian portabel mempercepat proses bongkar muat produk turunan kelapa sawit secara signifikan.
Data operasional menunjukkan efisiensi yang meningkat drastis. Rata-rata kecepatan bongkar muat melonjak dari 879 ton per kapal per hari (T/S/D) pada 2024 menjadi 3.620 T/S/D di tahun 2025.
"Kami berupaya memastikan setiap detik kapal bersandar dimanfaatkan secara efisien melalui penataan alur logistik yang ketat," kata Suwanda, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak.
Dampak Sosial: Lebih dari Sekadar Angka PTP Nonpetikemas menyadari bahwa kemajuan pelabuhan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga sekitar.
Baca juga:
Strategi PTP Nonpetikemas Mitigasi Suap dan Amankan Bisnis Pelabuhan
Melalui program PTP EduPort, mahasiswa dari Universitas Tanjungpura dan Universitas Muhammadiyah Pontianak dilibatkan langsung dalam ekosistem kerja pelabuhan.
Tak hanya itu, pekerja lokal kini dibekali sertifikasi BNSP untuk bidang curah cair dan kering melalui program pelatihan khusus. Langkah ini diambil agar warga Mempawah tak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya industri di tanah mereka sendiri.
Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, menyebut penguatan SDM lokal sebagai fondasi keberlanjutan.
"Inovasi dan sertifikasi bagi masyarakat sekitar adalah wujud kepedulian kami agar operasional perusahaan memberi manfaat nyata bagi lingkungan," pungkasnya.
URL : https://jatimnow.com/baca-81476-terminal-kijing-ubah-wajah-ekspor-bauksit-dan-cpo-nasional