jatimnow.com - Indonesia masih terjebak dalam bayang-bayang kelam Tuberkulosis (TBC) sebagai penyumbang beban kasus terbesar kedua di dunia.
Di tengah tantangan akses diagnosis yang mahal dan terbatas, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) muncul dengan solusi yang tidak biasa, mendeteksi penyakit lewat rekaman suara batuk.
Tim yang menamakan diri TBCare ini menciptakan sistem skrining dini menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan Deep Learning.
Inovasi tersebut lahir dari kegelisahan melihat banyaknya masyarakat yang terlambat menyadari gejala TBC Paru karena enggan atau kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan formal.
Ketua tim TBCare, Nathania Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa suara batuk sebenarnya menyimpan kode-kode unik yang mencerminkan kondisi jaringan paru-paru seseorang.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang berkembang biak di paru mengubah pola spektral suara penderitanya.
"Kami membedah kompleksitas sinyal batuk yang selama ini dianggap tidak beraturan. Melalui pendekatan Deep Learning, kami mencari karakteristik akustik spesifik yang hanya dimiliki oleh pasien TBC," ujar mahasiswi prodi Teknologi Kedokteran ITS tersebut.
Secara teknis, tim ini memadukan metode Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) untuk memvalidasi suara lingkungan dan algoritma Long Short-Term Memory (LSTM) untuk proses klasifikasi.
Penggabungan ini memungkinkan alat tersebut tetap akurat meski digunakan dalam berbagai kondisi lingkungan yang bising.
Baca juga:
Atasi Defisit BPJS, Mahasiswa ITS Integrasikan Gym ke Mobile JKN
Bukan sekadar perangkat lunak, Nathania dan kawan-kawan merancang perangkat perekam suara batuk fisik yang terintegrasi dengan ekosistem Internet of Things (IoT).
Alat portable ini dirancang sangat sederhana agar bisa dioperasikan oleh kader kesehatan di pelosok desa tanpa memerlukan latar belakang medis yang rumit.
"Perangkat ini terhubung langsung dengan basis data rumah sakit. Jadi, data medis bisa terkirim dan terkelola secara efisien tanpa birokrasi yang berbelit," tambah Nathania.
Inovasi ini bukan sekadar prototipe laboratorium. Tim yang dibimbing oleh Dr. Eng. Dhany Arifianto ini telah melakukan uji validasi medis menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Hasilnya cukup menjanjikan, dengan tingkat sensitivitas klasifikasi mencapai 76 persen.
Baca juga:
Osmoinc, Alat Canggih Mahasiswa ITS Bikin Telur Asin Masir Tanpa Menunggu
Berkat kecanggihan dan dampak sosialnya, karya ini sukses menggondol medali emas dalam ajang Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025.
Bagi Nathania, prestasi tersebut hanyalah bonus. Tujuan utamanya adalah mendukung ambisi global untuk eliminasi TBC pada tahun 2030.
"Kami ingin inovasi ini memperpendek jarak antara pasien dan pengobatan. Semakin cepat terdeteksi lewat skrining suara ini, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan tidak menularkan ke orang lain," tutupnya optimistis.
Melalui alat deteksi TBC ini, ITS membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak harus selalu mahal. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam mengurangi ketimpangan layanan kesehatan dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih sehat.
URL : https://jatimnow.com/baca-81551-cukup-rekam-batuk-alat-buatan-its-ini-bisa-skrining-gejala-tbc