jatimnow.com – Di tengah kota yang kerap sesak oleh hiruk-pikuk dan gejolak, sebuah kampung di sudut Surabaya membuktikan bahwa solidaritas masih punya nyali. Malam itu, Jumat (29/8/2025), alarm bahaya meraung di Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantian. Suaranya memecah gelap, memanggil warga RW 5 berkumpul setelah kerusuhan pecah pascaunjuk rasa di sekitar Gedung Negara Grahadi.
Tanpa komando panjang, warga bergegas. Tongkat, sapu, apa pun yang ada di tangan dijadikan simbol tekad. Mereka membentuk pagar betis di perempatan, menghadang laju perusuh yang bergerak dari arah Jembatan Merah. Barisan warga itu cukup untuk memukul mundur massa. Malam pun berakhir tanpa api di wilayah mereka. Pos polisi selamat.
“Ada pos polisi dekat Pasar Atom dan pos polisi Pegirian yang paling dekat dengan Balai RW 5. Massa mau belok ke sini, ke Jalan Dukuh, sudah enggak bisa karena banyak warga yang berjaga di perempatan Jalan Kembang Jepun,” cerita Ketua RW 5 Nyamplungan, Andi Usman, mengenang malam yang tegang sekaligus heroik itu, Kamis (9/10/2025) malam.
Peristiwa tersebut bukan reaksi sesaat. Kekompakan warga RW 5 adalah buah dari kebiasaan panjang. Selama lima tahun terakhir, mereka merawat PAM Swakarsa, pengamanan mandiri warga sebagai denyut harian kampung. Balai RW tak pernah benar-benar tidur. Ronda bergilir, lumbung pangan, dapur kecil, APAR, hingga papan catatan program di dinding balai yang lega itu menjadi saksi bagaimana kampung ini menjaga dirinya sendiri.
Hasilnya terasa nyata. Aksi jambret yang dulu menghantui kawasan niaga Nyamplungan lenyap dalam tiga tahun terakhir. Tawuran berhasil dicegah sejak dini. Kebakaran di Kelenteng Hong Tiek Hian yang dulu cukup sering terjadi kini menurun drastis berkat sistem alarm kampung. Bahkan pencurian kendaraan bermotor perlahan menjauh, kalah oleh mata warga yang selalu terjaga.
Lebih dari sekadar aman, kampung ini hidup dalam harmoni. Sekitar 60 persen warganya keturunan Tionghoa, sisanya Jawa dan Madura. Tiga rumah ibadah: kelenteng, gereja, dan masjid berdiri berdampingan tanpa sekat curiga. Parkir salat Jumat dijaga bersama, sembahyang dirawat bersama.
“Kalau kita (Islam) ada salat Jumat, mereka (Tionghoa) sembahyangan dua minggu sekali, yang jaga parkir orang-orang pribumi. Empat belas tahun saya di sini, tidak pernah ada konflik antaragama,” terangnya.
Gotong royong tak berhenti di toleransi. Dari 27 warga miskin, kini tinggal 16 keluarga. Mereka perlahan bangkit lewat iuran kampung, bantuan lintas iman, akses kerja, serta pendampingan anak muda agar tak jatuh ke jurang pengangguran.
“Contoh warga miskin bapaknya meninggal. Kami yang mendukung pemakaman, kami yang membeli kain kafan,” katanya. “Tapi saya tidak mau warga miskin kami itu selalu mengandalkan. Kami beri peluang untuk maju, tapi tetap dipantau. Anak muda pengangguran kami koordinasikan ke kelurahan, ada padat karya atau lowongan kerja dari perusahaan, lalu kami sosialisasikan,” tambahnya.
Semangat serupa berdenyut di RW 4 Kelurahan Tanjung Perak. Jumat (10/10/2025) pagi, puluhan ibu-ibu berdaster bersiap mengawali hari dengan berburu sayur dan sembako gratis di gang RT 7.
Pukul 06.30 WIB, dua meja panjang dan satu meja bundar di depan rumah Wahyudi, Ketua RT 7, dipenuhi sayuran yang dikemas rapi dalam plastik. Cukup untuk dimasak porsi rumahan. Lengkap dengan beras sekiloan, dua potong tahu, dan mi kemasan yang bisa dipilih. Aneka kue basah disiapkan sebagai pelengkap teh hangat setibanya di rumah.
“Biasanya lebih banyak. Ada minyak goreng, ada telur, bahkan kadang ada deterjen,” ujar Wahyudi.
Program Jumat Berbagi itu disiapkan Wahyudi bersama istrinya. Tasmini, Kader Surabaya Hebat, juga sukarela datang pagi untuk merampungkan sembako yang belum terbungkus. Dalam waktu tak sampai lima menit, seluruhnya habis tanpa sisa.
Ia mengakui, sejak bergulir lima tahun terakhir, peminatnya terus bertambah. Tidak lagi terbatas warga RT 7, meluas lintas RT, RW, bahkan kelurahan. “Kita enggak membatasi orang, baik yang menyumbang maupun yang mengambil. Dari mana saja boleh,” ucapnya.
Bermula dari kebiasaan sederhana membagi sayuran hidroponik yang tak laku dijual, Wahyudi berharap Jumat Berbagi tak sekadar rutinitas, tetapi ruang berbuat baik.
“Mau berbuat kebaikan ya harus ada wadahnya. Kami membuat kesempatan itu,” jelasnya.
Baca juga:
Jelang Libur Nataru 2025, DPRD Surabaya Ingatkan Peran Satgas Kampung Pancasila
Suasana berbagi juga terasa di RT 3. Sedikitnya 50 porsi makanan gratis dengan menu berganti-ganti disiapkan swadaya oleh ibu-ibu. Penerimanya tak dibatasi, siapa pun yang merasa perlu atau sekadar ingin makan dipersilakan. Pagi itu, menu pecel dengan lauk tempe sederhana tersaji hangat.
Di sela program Jumat Berkah tersebut, Suryati (65) tampak sibuk menata tumpukan botol plastik untuk disetor ke Bank Sampah Wani, besutan warga setempat. Mengepul sampah menjadi harapan paling nyata baginya untuk memiliki tabungan, terlebih karena hasilnya bisa dikonversi menjadi emas digital melalui Pegadaian.
“Ini sudah ngumpul banyak, tiga karung. Nanti saya setor kalau bank sampah buka,” kata Suryati dengan wajah penuh harapan.
Suryati hanya satu dari sekitar 80 warga yang kini “menambang emas” lewat Bank Sampah Wani. Ketua RT 3 Ali Imron, penggagasnya, bercerita ide itu berangkat dari keresahan melihat sampah yang terus bertambah.
“Sampah itu berbahaya. Kasihan juga petugas kebersihan harus mengangkut terlalu berat,” ungkapnya.
Istri pengurus RT ditunjuk menjadi teller dan layanan nasabah. Dari pencatatan manual, kini sistem tabungan terhubung dengan Pegadaian untuk dikonversi emas digital. Keberhasilan ini memicu inovasi lanjutan: pengumpulan minyak jelantah. Warga mengumpulkan jelantah untuk disalurkan ke pihak ketiga. Sebagai gantinya, mereka memperoleh minyak goreng baru atau sembako yang dibeli dari hasil bank sampah.
“Kami juga melibatkan UMKM warga setiap kali operasional bank sampah dibuka,” tuturnya.
Di bidang kesehatan, kampung menerapkan kawasan bebas asap rokok. Satu smoking area disediakan di celah gang sempit selebar satu meter, sengaja dibuat kurang nyaman agar perokok perlahan beradaptasi.
Baca juga:
Prof Mulyanto Nugroho Kembali Pimpin Untag Surabaya
“Kalau ketahuan melanggar, Satgas Rutan Arok memberi sanksi memilah sampah,” tegasnya.
Gotong royong dan tenggang rasa ‘Kampung Pancasila’ di dua wilayah ini diharapkan menular ke seluruh Surabaya. Ketua Satgas Kampung Pancasila Irvan Widyanto menyebut sosialisasi terus diperluas ke seluruh RW.
“Sejak diluncurkan Mas Wali (Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi) pada 11 Agustus, kami menargetkan 786 RW dari total 1.360 RW pada tahun ini,” paparnya, Jumat (10/10/2025).
Program ini bukan kegiatan baru, melainkan penyempurnaan rutinitas lama dengan napas gotong royong. Pemkot juga menerjunkan 6.600 ASN pendamping untuk memetakan dan merekomendasikan penguatan sektor lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya.
Upaya tersebut sejalan dengan pesan Eri bahwa Pancasila harus hidup dalam tindakan, bukan sekadar diucap.
“Semua agama harus saling menguatkan, bukan saling menghina, agar tidak ada perpecahan di Surabaya,” sebut wali kota saat peluncuran Kampung Pancasila, Senin (11/8/2025).
Pembentukan Kampung Pancasila tertuang dalam Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 100.3.3.3/142/436.1.2/2025 tentang Satgas Kampung Pancasila yang ditetapkan 2 Juli 2025, sebagai kelanjutan program Kampung Madani yang telah lebih dulu berjalan.
Dari gang sempit hingga kampung padat, Pancasila di Surabaya tak sekadar slogan. Ia menjelma benteng sunyi, menjaga rasa dan merawat kehidupan di tengah riuh kota.