jatimnow.com-Potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi fiber optik masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Hingga kini, masih banyak operator fiber optik yang belum menunaikan kewajiban membayar retribusi kepada pemerintah daerah. Tahun ini Pemkab Tulungagung memastikan akan mengambil langkah lebih tegas untuk menertibkan persoalan ini.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Tulungagung, Sukowinarno, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), terdapat sebanyak 17 operator fiber optik yang beroperasi di wilayah Tulungagung. Namun ironisnya, dari jumlah tersebut hanya segelintir operator yang telah membayar retribusi.
“Data di Dinas PUPR menunjukkan ada 17 operator fiber optik. Tapi yang sudah memenuhi kewajiban retribusi masih sangat sedikit,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Sukowinarno menjelaskan, sepanjang tahun 2025 lalu, Bapenda Tulungagung baru mencatat dua operator fiber optik yang telah menyetorkan retribusi kepada pemerintah daerah. Artinya, masih ada 15 operator lain yang belum melakukan pembayaran.
“Awal tahun 2025 kemarin, baru dua operator yang menyetor retribusi,” terangnya.
Baca juga:
Aktivitas Pondok Ramadan Siswa SLB B di Tulungagung, Mengaji Al-Quran Braille
Dari dua operator tersebut saja, Pemkab Tulungagung mampu mengantongi penerimaan retribusi hingga Rp600 juta per tahun. Retribusi tersebut berasal dari pemanfaatan Ruang Milik Jalan (Rumija), yang memang menjadi kewajiban bagi pemasangan jaringan fiber optik.
“Fiber optik ini masuk dalam objek retribusi Rumija. Dari dua operator saja, penerimaannya sudah mencapai Rp600 juta per tahun,” jelasnya.
Baca juga:
Gagal Cek Rekening, Ratusan Penerima BPNT Datangi Dinsos Tulungagung
Ia menegaskan, jika seluruh operator fiber optik yang berjumlah 17 tersebut taat membayar retribusi, maka potensi tambahan PAD Tulungagung akan sangat besar. Untuk itu, pada tahun 2026 mendatang, Bapenda akan lebih aktif menyurati dan menagih kewajiban retribusi kepada seluruh operator fiber optik yang belum patuh.
“Nanti akan kami surati terus setiap operator fiber optik. Harapannya, realisasi PAD Tulungagung bisa lebih maksimal,” pungkasnya.