jatimnow.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menggenjot program hilirisasi ayam terintegrasi untuk memenuhi tambahan kebutuhan daging dan telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data Kementan RI, kebutuhan nasional untuk mendukung program MBG mencapai sekitar 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun. Jumlah tersebut dinilai masih belum tercukupi sehingga diperlukan penguatan produksi melalui konsep hilirisasi ayam terintegrasi.
“Jadi perlu teman-teman semua ketahui bahwa saat ini Indonesia sudah swasembada daging ayam dan telur. Kita bahkan juga sudah surplus dan ekspor. Namun dengan adanya program Makan Bergizi Gratis terdapat penambahan kebutuhan untuk daging ayam sekitar 1,1 juta ton per tahun dan telur ayam sekitar 774 ribu ton,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan RI, Agung Suganda, saat peresmian program hilirisasi ayam di Kabupaten Malang.
Agung menjelaskan, Kabupaten Malang dipilih sebagai salah satu lokasi proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang diinisiasi Danantara Indonesia di bawah perusahaan BUMN. Hal ini didasari potensi peternakan ayam di wilayah Malang dan sekitarnya yang dinilai cukup tinggi.
“Kita memang sudah swasembada, tapi 63 persen produksi ayam dan telur kita dihasilkan di Pulau Jawa. Untuk mengurangi disparitas, termasuk penyebaran dan pemerataan produksi daging ayam dan telur di luar Pulau Jawa, maka dibangun proyek hilirisasi ayam terintegrasi. Untuk fase pertama hari ini diresmikan di enam titik, salah satunya di kawasan Malang untuk pembangunan pemibitan Grand Parent Stock,” jelasnya.
Menurut Agung, pembibitan ayam akan dimulai di kawasan lereng Gunung Kawi, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Program ini ditargetkan mampu menghasilkan Parent Stock (PS) serta hingga 130 juta Final Stock (FS).
Selain di Malang, proyek hilirisasi ayam terintegrasi juga dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Kalimantan Timur. Hasil pembibitan tersebut nantinya akan disebarkan ke berbagai wilayah di luar Pulau Jawa guna mendukung produksi ayam pedaging yang berkelanjutan, efisien, dan berdaya saing.
Baca juga:
Jauh dari Standar Gizi, Dewan Pendidikan Lamongan Desak MBG Dihentikan Selama Ramadan
“Khusus untuk Malang ini bukan membangun ekosistem utuh seperti lima titik lainnya, tetapi fokus pada pembangunan pemibitan Grand Parent Stock-nya,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengatakan pembangunan kandang dan hatchery Grand Parent Stock (GPS) yang dikembangkan anak perusahaan ID FOOD, PT Berdikari, merupakan bagian dari proyek strategis nasional untuk menjaga ketahanan pangan.
“Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dengan kapasitas 18.000 ekor GPS, yang secara proyeksi mampu menghasilkan sekitar 900 ribu ekor DOC Parent Stock broiler dan 130 juta DOC Final Stock,” kata Ghimoyo, Jumat (6/2/2026).
Ia menyebut program hilirisasi ini merupakan bagian dari enam proyek fase pertama yang tersebar di 13 lokasi pada sembilan provinsi. Total nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar US$ 7 miliar dan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Baca juga:
Warga Demo SPPG Bandar Lor Kediri, Diduga Lakukan Penipuan-Sajikan Menu Tak Layak
“Proyek lintas sektor ini ditujukan untuk memperkuat sektor riil, meningkatkan daya saing industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan lapangan kerja secara berkelanjutan. Secara keseluruhan diproyeksikan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja,” ucapnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menegaskan pembangunan fasilitas GPS ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat hulu industri perunggasan nasional.
“Dengan kapasitas yang dibangun, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan daging ayam karkas hingga sekitar 169 juta kilogram. Ini akan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein nasional, termasuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.