jatimnow.com - Layar bioskop CGV Maspion Square malam itu tidak menampilkan film blockbuster Hollywood. Sebaliknya, penonton disuguhi realitas pahit sudut-sudut kota yang sering terabaikan.
Melalui proyek bertajuk "Titik Buta", mahasiswa Creative Media Communication angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (UK Petra) membawa isu sengketa lahan, limbah pangan, hingga krisis kesehatan publik ke ruang publik, Kamis (12/2/2026).
Langkah ini merupakan upaya mahasiswa keluar dari zona nyaman kampus untuk merekam dinamika sosial Surabaya yang sesungguhnya.
Dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Daniel Budiana, menjelaskan bahwa membawa karya mahasiswa ke bioskop komersial telah menjadi tradisi sejak 2021.
"Kami ingin mahasiswa merasakan langsung dinamika industri. Topik tahun ini beragam, namun benang merahnya tetap sama, memotret fenomena yang selama ini dianggap normal atau sengaja diabaikan masyarakat," ujar Daniel.
Terdapat tiga karya utama yang dihasilkan melalui riset mendalam selama empat bulan sejak September 2025. Salah satu yang mencuri perhatian adalah film 'Ini Belum Selesai' garapan Shanelle Keisha Susanto dan tim.
Film ini memotret perjuangan warga Tambak Bayan, kampung pecinan tertua di Surabaya, yang terjebak sengketa tanah melawan pihak swasta sejak 2009.

Menariknya, dokumenter ini menangkap sisi humanis lewat sosok Suseno Karja yang memilih jalur kesenian sebagai instrumen perlawanan, sebuah refleksi atas buntunya jalur hukum yang adil.
Baca juga:
Alasan Harga Emas Antam Melejit 60 Persen dalam Setahun Terakhir
Isu lingkungan dan kesehatan juga tak luput dari bidikan kamera. Film 'Rail Estate' karya Nathalie Celine Gunawan mengeksplorasi kehidupan warga Dupak Magersari di pinggir rel kereta api.
Mereka harus bertahan di tengah fenomena urban heat island (UHI) atau suhu ekstrem perkotaan tanpa perlindungan ruang hijau yang memadai.
"Mitigasi suhu selama ini seolah hanya menjadi beban warga untuk bertahan hidup, padahal ada peran sistemik negara yang absen di sana," tambah Daniel.
Selain isu lahan dan iklim, film 'All You Can’t Eat' karya Whitnie Odelyn Siauw membongkar paradoks gaya hidup modern.
Baca juga:
UK Petra Bawa Teknologi Presisi ke Kebun Kopi Malang
Di satu sisi, Surabaya memproduksi gunungan sampah makanan (food waste), namun di sisi lain masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan asupan layak.
Karya-karya ini tidak hanya berhenti di meja dosen atau layar bioskop lokal. Seluruh film dalam proyek "Titik Buta" saat ini tengah mengantre pengumuman di berbagai ajang internasional, termasuk Globale Mittelhessen (Jerman), Lenses-Vancouver International Film Festival (Kanada), Pigdon Street International Film Festival (Islandia), dan Seoul Human Rights Film Festival (Korea Selatan)
Melalui penayangan yang disaksikan 112 penonton ini, para sineas muda UK Petra berharap masyarakat mulai membuka mata terhadap kerentanan sosial yang ada di depan mata.
Film-film ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya gedung pencakar langit Surabaya, ada suara-suara dari pinggiran yang menuntut untuk didengar.