jatimnow.com - Dunia manajemen konvensional kini mendapat tantangan baru. Profesor Mohamad Yusak Anshori, dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen pertama di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (14/2), melontarkan gagasan provokatif, yakni pelatihan soft skills saja tidak lagi cukup bagi organisasi modern.
Pria kelahiran Kediri ini memperkenalkan konsep Softbrain Engineer, sebuah pendekatan yang melampaui sekadar pengembangan perilaku di permukaan.
Menurutnya, kegagalan banyak organisasi dalam beradaptasi seringkali berakar pada pengabaian kondisi psikologis dan mekanisme kerja otak manusia yang menjalankan sistem tersebut.
"Perubahan perilaku sering kali bersifat sementara karena tidak menyentuh akar masalahnya, yaitu cara manusia berpikir dan merespons tekanan. Kita perlu beralih ke Softbrain Skills," ujar Prof. Yusak dalam orasi ilmiahnya di Auditorium Unusa.
Konsep ini menitikberatkan pada empat pilar utama, yakni regulasi emosi, kelincahan kognitif, kecerdasan kolaboratif, dan resiliensi emosional.
Baginya, memahami proses kognitif adalah kunci untuk membangun sumber daya manusia yang mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang kian ekstrem.
Gelar Guru Besar ini bukan sekadar atribut akademik. Prof. Yusak membuktikan dedikasinya lewat produktivitas yang mencengangkan. Ia berhasil menerbitkan lebih dari 30 buku manajemen hanya dalam satu tahun terakhir.
Baca juga:
FK Unusa Cetak Spesialis Obgyn Berbasis Nutrisi Janin dan Ahli Paru
Karya-karyanya merupakan sintesis dari pengalaman panjangnya memimpin korporasi dan refleksi mendalam di dunia akademik.
Rektor Unusa, Prof. Triyogi Yuwono, menilai bahwa pemikiran ini sangat relevan dengan strategi transformasi kampus yang dirangkum dalam jargon GREATS (Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability).
"Organisasi masa depan tidak bisa hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Kita butuh manusia dengan ketahanan mental dan kecerdasan emosional yang matang. Gagasan Softbrain Engineer menghadirkan sisi humanistik dalam manajemen," ungkap Prof. Triyogi.
Baca juga:
Dokter Baru FK Unusa Siap Taklukkan Lumpur Pedalaman Papua
Melalui jalan sunyi penelitiannya, suami dari Sadworo Ramadani ini berupaya mengembalikan posisi manusia sebagai pusat dari setiap organisasi.
Ia berharap konsep ini tidak mandeg di rak perpustakaan kampus, melainkan menjadi basis kurikulum pendidikan nasional dan pelatihan kepemimpinan di Indonesia.
Pengukuhan ini menandai babak baru bagi Unusa dan dunia manajemen nasional. Di tangan Prof. Yusak, manajemen bukan lagi soal mengejar angka secara mekanistik, melainkan seni mengelola potensi otak dan hati demi keberlanjutan sebuah institusi.