Pixel Code jatimnow.com

Tarawih di Masjid Cheng Ho Surabaya, Merajut Kekhusyukan dalam Akulturasi Budaya

Editor : Yanuar D  
Suasana Masjid Cheng Ho Surabaya. (Foto-foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Suasana Masjid Cheng Ho Surabaya. (Foto-foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com – Menjalani salat tarawih di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda. Di tengah lantunan ayat suci dan doa-doa Ramadan, jemaah juga diajak menyelami harmoni akulturasi budaya Tionghoa dan Islam yang terasa kuat melalui arsitektur, ornamen, hingga atmosfer ibadah yang khusyuk.

Sejak hari pertama, Masjid Cheng Ho di jalan Gading Surabaya ini padat oleh jamaah. Muslim Tionghoa dan warga lokal memadati masjid dengan arsitek mirip Masjid Niuji di Beijing. Jamaah laki-laki berada di dalam masjid beratap pagoda, sedangkan jamaah wanita berada di pelataran masjid yang luas.

Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, Ahmad Hariyono Ong, mengatakan antusiasme jemaah memang cenderung berkurang ketika hujan. Namun, semangat masyarakat untuk mengikuti rangkaian ibadah Ramadan di masjid ini tetap tinggi. Sebagian besar bahkan mengikuti rangkaian tarawih 20 rakaat dan tiga witir.

“Kalau hujan biasanya memang berkurang. Tapi tetap antusias. Kapasitas masjid bisa sampai 500 jemaah. Itu sudah banyak, apalagi lokasi masjid ini jauh dari perkampungan,” ujarnya.

Selain menggelar salat tarawih, Masjid Cheng Ho Surabaya juga rutin mengadakan berbagai kegiatan selama bulan Ramadan. Di antaranya penyediaan buka puasa bersama sebanyak 600 hingga 700 porsi setiap hari, kajian keislaman, tadarus Al-Qur’an, hingga program khatmil Qur’an.

Mulai hari pertama puasa, Kamis (19/2/2026), kegiatan buka puasa bersama digelar setiap hari. Sajian tersebut diperuntukkan bagi masyarakat sekitar maupun para musafir yang singgah.

“Berbuka bersama dengan masyarakat sekitar, para musafir juga kadang-kadang ada,” imbuh Ahmad.

Ia menambahkan, pada malam peringatan Nuzulul Qur’an, pihak takmir akan menggelar khatmil Qur’an yang dibacakan oleh tiga penghafal Al-Qur’an. Sementara pada 10 malam terakhir Ramadan, sejumlah rangkaian ibadah khusus juga disiapkan.

Baca juga:
Sportrip Gerakkan Komunitas, Gandeng Kahf Sambangi Panti Asuhan di Surabaya

“Sepuluh hari terakhir, terutama di malam ganjil, akan digelar salat qiyamul lail, salat malam, salat taubat, salat tasbih, salat hajat, serta zikir bersama,” bebernya.

Tak hanya dikenal sebagai pusat ibadah, Masjid Cheng Ho Surabaya juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Masjid ini dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Laksamana Cheng Ho, seorang muslim Tionghoa dari Dinasti Ming yang dikenal saleh, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

Cheng Ho, yang memiliki nama kecil Ma He, sejak usia belia direkrut menjadi kasim kerajaan dan dipercaya memegang berbagai jabatan penting berkat kejujuran, kecerdasan, dan keteladanan sikapnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh yang menghormati perbedaan keyakinan. Meski beragama Islam, Cheng Ho tetap menghargai pemeluk Buddha dan Tao.

Sikap toleran tersebut membuatnya dianugerahi gelar kehormatan “Foo Fok Chen”, yang mencerminkan ketakwaan, kebijaksanaan, dan kesalehan pribadi. Cheng Ho kemudian dikenal luas sebagai simbol harmoni dan persatuan lintas budaya.

Baca juga:
Borong Takjil Sambil Cek Promo Bright Gas, Solusi Hemat di Bulan Ramadan

Sebagai laksamana besar Dinasti Ming, Cheng Ho memimpin armada laut raksasa dengan ratusan kapal dan puluhan ribu awak. Dalam setiap pelayaran, ia selalu menekankan pentingnya persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, serta kepedulian sosial. Ia juga dikenal sering membantu kaum miskin dan yatim tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun budaya.

Nilai-nilai luhur tersebut menginspirasi pendirian Masjid Cheng Ho Surabaya, yang kini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan etnis Tionghoa Muslim dengan masyarakat Indonesia. Arsitekturnya mengusung nuansa khas Tiongkok dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning, berpadu harmonis dengan unsur Islam.

Selain sebagai pusat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan sosial. Berbagai fasilitas tersedia, mulai dari taman kanak-kanak, lapangan olahraga, kantor pengelola, kelas kursus bahasa Mandarin, hingga kantin. Seluruh fasilitas tersebut diharapkan mampu mempererat silaturahmi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperkuat hubungan umat dengan Allah SWT.

Dengan nilai sejarah, budaya, dan toleransi yang dikandungnya, Masjid Cheng Ho Surabaya kini menjadi salah satu ikon wisata religi sekaligus pusat kegiatan keagamaan yang penting di Kota Surabaya.