Pixel Code jatimnow.com

Mengenal Hybrid Warfare, Ancaman Tak Kasat Mata Bagi Generasi Muda

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Letda Laut Abdul Aziz saat menjadi pemateri podcast Pojok Salahuddin. (Foto: IG @aziz.aljaisyi/jatimnow.com)
Letda Laut Abdul Aziz saat menjadi pemateri podcast Pojok Salahuddin. (Foto: IG @aziz.aljaisyi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Era peperangan modern tak lagi sekadar soal adu peluru atau ledakan bom di medan tempur.

Saat ini, masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, sedang berada dalam pusaran hybrid warfare atau peperangan hibrida yang menyerang tanpa suara.

Ancaman ini tidak menggunakan kekuatan militer fisik, melainkan melalui serangan psikologis, disinformasi, hingga perusakan moral melalui ruang digital.

Letda Laut (KH) Abdul Aziz, seorang perwira rohani di TNI Angkatan Laut, mengungkapkan bahwa Gen Z menjadi target utama dalam skema peperangan ini.

Menurutnya, musuh saat ini menyusup lewat layar ponsel yang digenggam setiap hari.

"Peperangan hibrida memiliki banyak komponen, mulai dari tersebarnya berita bohong (hoaks) hingga upaya merusak mental dan psikologi," ujar Abdul Aziz dalam bincang santai dengan Eric Ireng di laman Instagram Masjid Salahuddin.

Aziz menjelaskan bahwa perusakan mental ini sering kali tidak disadari. Ia menunjuk fenomena game online yang berlebihan, judi online (slot), hingga paparan konten pornografi sebagai instrumen yang sengaja digunakan untuk membuat anak muda menjadi apatis terhadap lingkungan sekitar.

Dampak nyata dari serangan ini adalah pergeseran nilai hidup. Munculnya budaya hedonisme yang dipamerkan di media sosial memicu ketidakpuasan dalam keluarga dan meningkatkan angka perceraian.

"Laki-laki dirusak dengan penyimpangan seksual lewat video porno, sementara perempuan dirusak dengan pengaruh gaya hidup mewah (hedonisme). Banyak konten sengaja didesain untuk pamer dan merusak mental bangsa kita," tambahnya.

Baca juga:
Marinir Sisihkan Gaji, Prajurit Yonif 1 Bagi Takjil di Jalan Juanda

Sebagai perwira dengan latar belakang pesantren, Aziz mematahkan anggapan bahwa kehidupan militer menjauhkan seseorang dari agama.

Di TNI AL, terdapat korps khusus yang bertugas melakukan pembinaan mental (Bintal). Baginya, prajurit yang tangguh harus memiliki keseimbangan antara fisik dan spiritual.

Prajurit yang hanya kuat secara fisik tetapi rapuh mentalnya cenderung rentan terhadap penyalahgunaan wewenang dan korupsi.

Sebaliknya, rasa takut dan cinta kepada Tuhan justru menjadi motor penggerak profesionalisme dan kejujuran dalam bertugas.

Kiat Menjaga Waras di Era Digital

Baca juga:
KRI Sultan Iskandar Muda-367 Tuntaskan Tugas Pamungkas PBB di Lebanon

Untuk menghadapi gempuran ancaman non-fisik ini, Aziz membagikan tiga langkah strategis guna menjaga stabilitas mental dan iman bagi masyarakat luas.

Pertama, seleksi lingkaran pertemanan. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Pilihlah lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kedua, terus belajar. Menghadiri majelis ilmu atau kajian agama berfungsi sebagai cara mengisi ulang daya (recharge) iman agar tetap stabil.

Selanjutnya yang ketiga yakni kekuatan doa. Mengingat hati manusia mudah berbolak-balik, memohon keteguhan prinsip kepada Tuhan menjadi kunci terakhir.

Kehadiran sosok seperti Letda Abdul Aziz di jajaran TNI AL membuktikan bahwa menjaga kedaulatan negara saat ini juga berarti menjaga keutuhan mental dan spiritual warganya dari serangan yang tak terlihat.