jatimnow.com - Angin sore di kompleks makam Wage Rudolf Supratman terasa berbeda, Minggu (08/3). Di depan pusara sang pencipta lagu Indonesia Raya, puluhan seniman dan pegiat budaya berkumpul bukan sekadar untuk seremoni.
Mereka sedang memulai estafet semangat melalui gelaran Hari Musik Nasional 2026 yang berpusat di Surabaya.
Pemilihan lokasi ini menjadi pengingat keras bahwa musik di tanah air lahir dari rahim perlawanan. Sejarah mencatat, instrumen biola Supratman-lah yang membakar nyali pemuda pada Kongres 1928, jauh sebelum senjata api menuntaskan kemerdekaan.
"Kami ingin semangat nasionalisme Supratman meresap ke musisi zaman sekarang. Perjuangan itu tidak melulu soal fisik, tapi juga lewat kualitas karya," ujar Heri Lentho Prasetyo, Ketua Pelaksana Hari Musik Nasional 2026 di Surabaya.
Acara bertajuk "Gelora Indonesia Raya" ini menghadirkan panggung lintas genre yang cair. Setelah doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan yang dipandu musisi Arul Lamandau, suasana makam yang biasanya sunyi berubah energetik.

Kelompok tari ZR Dance membuka penampilan dengan koreografi lagu "Garuda". Tak lama, irama melandai saat Keroncong Impresif Riang Gembira asal Sidoarjo naik panggung.
Kontras genre semakin terasa ketika pasangan musisi Cak Untung dan Ning Indri menghentak dengan nomor-nomor rock klasik, disusul duo The Adipoday Snekta asal Bangkalan yang membawa musikalisasi puisi penuh kritik sosial.
Baca juga:
Foto: Drama Musikal Katarsis Sang Naga
Ketua Panitia, Nurhayati, menjelaskan bahwa rangkaian bertajuk Parade Indonesia Bermusik ini dirancang inklusif. Menurutnya, panggung ini milik siapa saja, mulai dari pelajar hingga musisi independen yang bergerak di jalur non-mainstream.
Selain soal nasionalisme, isu karakter generasi muda menjadi sorotan. Humas kegiatan, Rokim Dakas, melontarkan kegelisahannya terkait minimnya asupan lagu anak di era digital.
"Lagu anak itu fondasi. Di sana ada nilai moral dan rasa cinta pada tanah air yang ditanamkan sejak dini. Jika lagu anak hilang, kita kehilangan media paling efektif untuk membangun karakter bangsa," tegas Rokim.
Kekhawatiran ini dijawab dengan porsi khusus bagi penampil cilik, seperti Pino Drummer serta kehadiran berbagai komunitas seni pelajar.
Baca juga:
Hari Musik Nasional di Surabaya Tampilkan Drama Musikal, Katarsis Sang Garuda
Rangkaian acara akan mencapai puncaknya pada Senin, 9 Maret 2026. Sebanyak 1.000 siswa dari SMP Negeri 3 Surabaya dijadwalkan berkumpul di Gedung Siola untuk mengikuti program "Seribu Suara Pelajar".
Mereka akan melantunkan lagu Indonesia Raya dalam format tiga stanza secara utuh. Aksi kolosal ini diharapkan menjadi simbol bahwa lirik lengkap yang ditulis WR Supratman yang mengandung doa dan harapan mendalam bagi Indonesia tetap hidup dan dihafal oleh generasi zilenial.
Sejumlah tokoh tampak hadir memberikan apresiasi, di antaranya Remy Wicaksono (putra legenda musik Gombloh) serta Rudy "Anggrek", sosok yang selama ini vokal mengenalkan kekayaan alam Indonesia ke mata internasional.